Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengumumkan bahwa dalam serangan terbaru, pihaknya telah menggempur markas besar tentara dan pemukiman Goron dan Shlomi di Israel utara, sementara tentara Israel terus membom beberapa kota di Lebanon selatan.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Kamis (28/3), Hizbullah mengaku telah “membom pemukiman Gorn dan Shlomi dengan rudal dan artileri, sebagai balasan atas serangan musuh, Israel,terhadap desa-desa selatan dan rumah-rumah warga sipil, terutama pembantaian Naqoura dan serangan terhadap kota Teir Harfa dan tim medis di sana.”
Pada Rabu malam, sembilan orang gugur dalam pemboman Israel di Lebanon selatan, sehingga jumlah korban jiwa menjadi 16 orang pada tempo 24 jam dan dalam gelombang eskalasi Israel yang tersengit terhadap Lebanon sejak konfrontasi perbatasan dimulai Oktober lalu.
Dalam pernyataan selanjutnya, Hizbullah menyatakan para pejuangnya “menyerang markas besar Batalyon Liman yang baru (di Israel utara) dengan peluru artileri.”
Kantor berita resmi Lebanon, NNA, melaporkan bahwa tentara Israel menyerang pinggiran kota Al-Dhahra, Zibqin, Alma Al-Shaab, Naqoura, Majdal Zoun, Tayr Harfa, dan Wadi Hamoul, dengan sejumlah peluru artileri.
Menurut NNA, pesawat-pesawat pengintai Israel terus terbang di atas desa-desa perbatasan yang berdekatan dengan Garis Bir, yang memisahkan Lebanon dan Israel.
Ali Fayyad, anggota Parlemen Lebanon dari Hizbullah, bersumpah bahwa pihaknya akan menghadapi eskalasi Israel dengan “tanggapan yang lebih keras.”
“Eskalasi yang dilakukan musuh, Israel, selama berhari-hari di front selatan merupakan ekspresi kebuntuan yang membuat Israel goyah di tingkat politik dan militer di Gaza serta di front utara (Lebanon),” ungkapnya.
Dia memperingatkan, “Jika musuh mempertimbangkan pilihan untuk melakukan eskalasi, mereka harus membuat perhitungan dengan baik, karena kerugiannya akan meningkat dan masalah di wilayah utara akan semakin buruk, dan pada akhirnya kesulitannya akan menjadi lebih rumit.”
Fayyad menambahkan, “Perimbangannya jelas dan sederhana; perlawanan akan semakin meningkat, dan tanggapannya akan menjadi lebih keras dalam kuantitas, kualitas, kedalaman, dan tujuan.”
Fayyad menilai bahwa “Israel beralih ke opsi eskalasi militer sebagai alternatif perang terbuka, dan inilah yang ditunjukkan oleh indikator-indikator dalam beberapa hari terakhir.”
“Eskalasi, menurut praktik Israel, berarti menyerang kedalaman wilayah, seperti yang terjadi di provinsi Bekaa Barat dan kota Baalbek (Libanon timur), atau menyerang pusat kesehatan dan layanan sipil, seperti yang terjadi di kota Al-Adissa dan Al-Habbariyeh,” pungkasnya. (mm/raialyoum)