Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, kembali menyatakan penolakan tegasnya terhadap upaya perlucutan senjata Hizbullah dan berbagai kelompok perlawanan lain anti-Israel.
Dalam pidato yang disiarkan televisi di sebuah acara sosial, Senin (25/8), Syeikh Qassem mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan senjata yang telah menguatkan kami dan melindungi kami dari musuh Israel kami.”
Dia menambahkan, “Tentara Lebanon harus dipersenjatai dan bertanggung jawab (mengusir Israel dari Lebanon), dan kubu perlawanan eksis sebagai faktor penunjangnya.”
Syeikh Qassem menyatakan demikian beberapa jam setelah kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membuat pernyataan bahwa Tel Aviv akan mengurangi pendudukannya di wilayah Lebanon selatan jika Beirut mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk perlucutan senjata Hizbullah.
Sejak perang terakhirnya di Lebanon, Israel telah menduduki beberapa wilayah di Lebanon selatan, di samping sejumlah wilayah lain yang telah didudukinya selama beberapa dekade.
Syeikh Naim Qassem menyerukan tuntutan luas kepada pemerintah Lebanon untuk memulihkan kedaulatan nasional agar merasa bertanggung jawab dalam upaya mencapai tujuan ini.
Dia menyebut keputusan pemerintah untuk melucuti senjata kubu perlawanan sebagai “inkonstitusional.”
“Jika pemerintah terus seperti ini, maka ia tidak dapat dipercaya untuk menjaga kedaulatan Lebanon,”tandasnya.
Dia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) menghalangi senjata yang melindungi negara, mengusik Lebanon, tidak dapat dipercaya, merupakan ancaman bagi Lebanon, bertujuan untuk merongrong Lebanon, dan menyerukan kepada fitnah.
Sekjen Hizbullah mendesak pemerintah menghentikan agresi Israel jika ingin memperluas kedaulatannya dan bekerja demi kepentingan negara, alih-alih mendesak kubu perlawanan meletakkan senjata.
“Senjata, yang telah membuat kami bangga dan melindungi kami dari musuh, tidak akan kami tinggalkan. Senjata adalah nyawa kami, kehormatan kami, tanah kami, martabat kami, dan masa depan anak-anak kami,” tegasnya.
Dia lantas memperingatkan, “Siapa berusaha melucuti senjata kami maka dia seperti (hendak) merenggut nyawa kami, dan saat itulah dia akan melihat kekuatan kami.”
Syekh Qassem menilai perlawanan seabagi iman dan tekad, patriotisme dan kehormatan, kebanggaan dan keteguhan, dan sebuah kondisi yang bertolak belakang dengan kehinaan, penyerahan diri, dan ketundukan.
Dia memastikan kubu perlawanan adalah penunjang tentara nasional, yang tetap merupakan elemen utama yang bertanggung jawab mempertahankan tanah air sehingga harus dipersenjatai dan memikul tanggung jawab.
Dia menekankan bahwa kubu perlawanan tidak mencegah agresi, melainkan merupakan reaksi terhadap agresi, menghadapinya, dan menghalangi tujuannya.
Sembari memastikan bahwa pasukan pendudukan tidak akan dapat bertahan di Lebanon, dan Israel juga tidak akan dapat mewujudkan proyek ekspansionisnya melalui Lebanon, dia juga menegaskan bahwa Israel dapat menduduki, membunuh, dan menghancurkan, “tapi kami akan menghadapinya agar ia tidak bertahan, dan kami mampu untuk ini.” (mm/raialyoum)