Ledakan Menghantam Empat Kapal Komersial Di Selat Hormuz

0
124

Fujairah, LiputanIslam.com –  Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa empat kapal komersial terkena serangan “sabotase” di perairannya, beberapa jam setelah negara ini menyangkal laporan mengenai adanya ledakan di terminal kapal tanker minyak. Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serika (AS) dan Iran.

Kementerian Luar Negeri UEA, Minggu (11/5/2019), menyatakan keempat kapal itu menjadi sasaran “operasi sabotase” di perairan dekat pelabuhan Fujairah, UEA. Tidak ada korban yang dilaporkan, sebagaimana juga tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai sabotase yang dimaksud serta negara asal kapal yang menjadi sasaran serangan.

“Menundukkan kapal komersial pada operasi sabotase dan mengancam nyawa awak mereka dianggap sebagai perkembangan berbahaya,” ungkap Kementerian itu dalam sebuah pernyataannya, sembari menambahkan bahwa pihaknya sedang menyelidiki peristiwa ini.

Pernyataan itu dikeluarkan beberapa jam setelah otoritas Fujairah membantah laporan bahwa sebuah ledakan telah mengguncang terminal minyak di pelabuhan UEA tersebut.

TV Libanon Mayadeen adalah media yang pertama kali melaporkan ledakan itu, yang kemudian dikutip oleh Press TV milik Iran. Pejabat di Fujairah meminta media untuk “menyelidiki secara akurat dan mengandalkan sumber-sumber resmi.”

Petinggi parlemen Iran Heshmatollah Falahatpisheh di halaman Twitter-nya menyatakan, “Ledakan di Fujairah menunjukkan bahwa keamanan di selatan Teluk Persia (rentan) seperti kaca.”

Fujairah berada di kawasan Teluk Oman di sisi selatan Selat Hormuz.  Dengan keberadaan UEA dan Arab Saudi di satu sisi dan Iran di sisi lain maka sepertiga dari total minyak dunia di laut melintasi Selat Hormuz yang lebarnya hanya 39 kilometer.

UEA tidak secara langsung menyalahkan Iran atas dugaan sabotase, namun insiden ini terjadi beberapa hari setelah Administrasi Maritim AS mengklaim bahwa “Iran dan atau proxy regionalnya dapat mengambil tindakan terhadap kepentingan AS dan sekutunya, termasuk infrastruktur produksi minyak” di wilayah. (mm/rt)

DISKUSI: