Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon melepaskan badai rudal ke wilayah pendudukan Palestina pada hari Rabu (12/7) sebagai tanggapan atas serangan Israel yang menggugurkan seorang komandan senior Hizbullah, sehingga ketegangan antara kedua belah pihak semakin memuncak.
Tiga sumber keamanan mengatakan bahwa serangan Israel di desa Joya di Lebanon selatan pada Selasa malam menggugurkan tiga pejuang dan seorang komandan lapangan senior Hizbullah, Talib Abdullah, yang juga dikenal sebagai Haji Abu Thalib.
Salah satu sumber mengatakan bahwa Abu Thalib adalah anggota Hizbullah paling terkemuka yang gugur dalam konfrontasi Hizbullah dan Israel sejak delapan bulan lalu.
Sumber keamanan di Lebanon mengatakan bahwa Hizbullah telah melesatkan lebih dari 170 misil, dan ini menjadi salah satu serangan terbesar Hizbullah sejak Oktober 2023.
Hizbullah sendiri mengumumkan pihaknya telah melancarkan setidaknya lima serangan, antara lain terhadap pabrik industri militer Israel, markas militer Israel di Ein Zeitim dan Amiad, dan unit kontrol udara militer Israel di pangkalan Meron, masing-masing dengan puluhan roket Katyusha.
Hizbullah juga mengumumkan pemboman markas besar Korps Utara di pangkalan Ain Zeitim” dengan puluhan roket Katyusha .
Mereka juga membom markas besar Unit Kontrol Udara dan Departemen Operasi Udara di arah utara pangkalan Meron dengan puluhan roket Katyusha dan peluru artileri.
Dalam pernyataan terpisah, Hizbullah mengumumkan pihak telah menggempur beberapa lokasi pasukan pendudukan, termasuk situs Ruwaisat al-Qarn di wilayah pertanian Shebaa yang diduduki, dan situs Ramtha dan Samaqa di perbukitan Kfar Shuba yang diduduki. Hizbullah menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan dengan senjata rudal dan tepat mengena target .
Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah, Sayid Hashem Safi al-Din, menegaskan, “Setiap kali seorang pemimpin gugur syahid, kubu resistensi menjadi lebih kuat, lebih bertekad, dan lebih berani di lapangan.”
Dalam pidatonya pada prosesi pemakaman syahid Abu Thalib di Beirut, Sayid Safi al-Din menyatakan Israel masih berkutat dalam kebodohan dan tipu muslihatnya, dan belum belajar dari semua pengalaman yang ada ketika mereka percaya bahwa kesyahidan para pemimpin pejuang akan melemahkan resistensi.
“Jika niat rezim pendudukan dalam melakukan pembunuhan adalah untuk melemahkan tekad kami dan mencegah kami mendukung kaum tertindas, maka tanggapannya ialah bahwa kami akan meningkatkan intensitas dan kekerasan operasi militer kami,” tandasnya.
Dia lantas menegaskan, “Jika Israel (selama ini) merintih atas apa yang menimpanya di bagian utara Palestina pendudukan, (maka selanjutnya) bersiaplah untuk menangis dan meratap.” (mm/raialyoum/alalam)