Riyadh, LiputanIslam.com – Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Konferensi Kerja Sama Islam (OKI) di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, Sabtu (11/11), menyerukan kepada negara-negara Islam untuk mengklasifikasikan tentara Israel sebagai “organisasi teroris” karena kebrutalannya di Gaza.
Presiden Raisi juga mengimbau negara-negara Islam mempersenjatai para pejuang Palestina jika serangan Israel terhadap Gaza terus berlanjut.
“Tentara Israel harus diklasifikasikan sebagai organisasi teroris,” seru Raisi.
Iran mendukung dan menganggap Hamas sebagai “gerakan pembebasan” nasional, sementara Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Uni Eropa menganggapnya sebagai “gerakan teroris.”
Raisi menambahkan, “Kita harus memainkan peran karena organisasi internasional kini menjadi tidak berguna,” dan menyeru negara-negara Islam untuk “mempersenjatai rakyat Palestina.”
Dia juga menyerukan boikot perdagangan terhadap Israel, yang tidak diakui oleh Teheran, terutama di “bidang energi,” dengan mengatakan, “Perdagangan dan kerja sama dengan Rezim Zionis harus dihentikan dan barang-barang Israel harus diboikot.”
Raisi kembali menuduh AS “memotivasi kejahatan entitas Zionis di Gaza, dan AS telah memasuki perang di pihak Israel dengan mengirimkan kapal perangnya” ke Mediterania timur.
Dia juga menyerukan “pembentukan pengadilan internasional untuk mengadili Zionis dan AS yang terlibat dalam genosida dan pembantaian terhadap kemanusiaan di Gaza.”
Presiden Iran menganggap perlawanan sebagai satu-satunya jalan bagi bangsa Palestina dalam upaya memperoleh kembali hak dan martabatnya.
Dia mengutip perkataan Khamenei bahwa “solusi berkelanjutan adalah dengan mendirikan negara Palestina dari laut hingga sungai.”
KTT itu sendiri sesi pertamanya telah berakhir, dan mayoritas peserta menyampaikan kata-kata kecaman. Naifnya, para pemimpin Arab tidak mengumumkan penarikan duta besar, pemutusan hubungan, atau ancaman pemutusan pasokan gas atau minyak.
Adegan yang tampak canggung dalam sesi pembukaan KTT Arab-Islam itu adalah kepergian Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman beberapa menit setelah sesi dimulai. Hal ini memicu badai kontroversi di mata publik mengenai alasannya.
Beberapa orang menganggap kepergian itu menunjukkan bahwa KTT tersebut tidak setimpal dengan peristiwa penting yang terjadi di kawasan. (mm/raialyoum)