Gaza, LiputanIslam.com – Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza pada hari Senin (9/10) mengumumkan, bahwa jumlah korban gugur di pihak Palestina bertambah menjadi 687 orang, sementara Israel mengumumkan korban tewas di pihaknya melonjak menjadi sekira 900 orang.
“Jumlah korban tewas akibat agresi Israel yang sedang berlangsung pada hari ketiga di Jalur Gaza menjadi 687 orang Palestina, termasuk 140 anak-anak dan 105 wanita, dan korban luka 3.726 orang,” ungkap kementerian tersebut.
“Kejahatan pendudukan mengakibatkan pembantaian terhadap 13 keluarga,”lanjutnya.
Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lainnya di Gaza pada hari Sabtu melancarkan melancarkan serangan fajar bersandi Badai Al-Aqsa sebagai tanggapan atas serangan berkelanjutan yang dilakukan pasukan dan pemukim Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, harta benda mereka, dan kesucian mereka, khususnya Masjid Al-Aqsa di Al-Quds Timur yang diduduki.
Di sisi lain, tentara Israel melancarkan operasi “Pedang Besi” dan terus melancarkan serangan intensif di banyak wilayah di Jalur Gaza, yang dihuni oleh lebih dari dua juta orang Palestina yang menderita akibat blokade sejak tahun 2006.
Media Israel pada hari Senin mengumumkan jumlah korban tewas di pihaknya dalam konfrontasi dengan faksi-faksi Palestina mencapai 900 orang, dan korban luka 2.616 orang.
Seorang pejabat senior Hamas mengatakan pihaknya terbuka untuk berdiskusi mengenai kemungkinan gencatan senjata dengan Israel, setelah “kami mencapai tujuan kami.”
Ketika ditanya apakah Hamas siap membahas kemungkinan gencatan senjata, anggota biro politik Hamas, Musa Abu Marzouk, dalam wawancara telepon dengan Aljazeera mengatakan, “Kami tentu saja terbuka untuk demikian. Kami terbuka untuk semua dialog politik.”
Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dalam panggilan telepon dengan Sekjen PBB, Antonio Guterres, Senin, meminta PBB melakukan intervensi “untuk menghentikan agresi Israel,” khususnya di Jalur Gaza, dan pengiriman bantuan kemanusiaan dan kesehatan untuk penduduk Gaza.
Presiden Palestina menegaskan, “Satu-satunya solusi terhadap semua eskalasi yang terjadi di kawasan ini adalah solusi politik dengan mengakhiri pendudukan Israel atas tanah negara Palestina, dengan Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibu kotanya.”
Sebelumnya di hari yang sama, Guterres menyatakan “kesedihan mendalam” atas keputusan Israel memberlakukan “blokade total” terhadap Jalur Gaza.
Dalam konferensi pers dari New York, Guterres mengatakan bahwa pengumuman Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant bahwa Israel akan menghentikan semua pasokan listrik, makanan dan bahan bakar “hanya akan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah buruk di wilayah pesisir Palestina.”
Dia mengatakan, “PBB sedang melakukan upaya untuk memberikan bantuan kemanusiaan yang mendesak kepada masyarakat Jalur Gaza, dan melakukan kontak dengan semua pihak internasional yang berkepentingan untuk menghentikan eskalasi yang sedang berlangsung.” (mm/raialyoum/wafa)
Baca juga: