Khartoum, LiputanIslam.com – Kecamuk serangan udara dan artileri telah menewaskan sedikitnya 270 warga sipil dan melukai hampir 2.000 orang saat para jenderal yang bersaing di Sudan bertempur pada hari kelima.
Sebagaimana penduduk setempat, staf misi asing juga terjebak di zona konflik dan meminta pemerintah Sudan untuk memastikan keselamatan mereka sesuai perjanjian internasional.
Namun, situasi keamanan di lapangan sangat tidak pasti, karena tentara menghadapi paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang kuat di ibu kota, Khartoum.
Dua upaya sebelumnya untuk menerapkan gencatan senjata telah gagal sejauh ini, sehingga menyusahkan warga sipil untuk mendapat perawatan medis dan membeli kebutuhan seperti makanan dan air, serta mempersulit misi asing untuk mengevakuasi warga dan diplomat mereka dari Sudan. Ada laporan bahwa upaya ketiga akan dilakukan mulai pukul 18:00 waktu setempat pada hari Rabu.
Pemerintah Jepang pada hari Rabu (19/4) mengatakan bahwa Kementerian Pertahanannya sedang mempelajari proses evakuasi sekitar 60 warganya dari Sudan.
Pada hari Selasa, tersiar kabar bahwa Wim Fransen, kepala badan kemanusiaan Uni Eropa di Sudan, telah ditembak dan terluka parah serta menerima perawatan medis.
Fransen hilang sejak Minggu malam di tengah kekacauan akibat pertempuran dan perintah untuk berlindung di tempat. Setelah mencarinya selama lebih dari 24 jam, rekan-rekannya dapat menemukannya dan membantunya. (mm/aljazeera)
Baca juga:
Kekhawatiran Makin Membengkak, Jumlah Korban Tewas Pertempuran di Sudan Capai 97 Orang