Teheran, LiputanIslam.com – Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Ali Fadavi mengatakan bahwa berkat keyakinan, pengalaman, dan teknologi dalam negeri, Iran berhasil mengalahkan kekuatan global dalam Perang 12 Hari meskipun mereka memiliki senjata baru.
Dia menyebutkan bahwa kekuatan global mengerahkan teknologi militer baru yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran dalam perang tersebut, tapi Iran muncul sebagai pemenang.
“Dalam perang ini, seluruh kemampuan material dan ilmiah dunia dikerahkan; banyak teknologi dan peralatan yang digunakan belum pernah diuji sebelumnya dalam perang apa pun. Meskipun demikian, kemampuan kami tinggi, IRGC dan pasukan sukarelawan Basij turun ke lapangan, dan Allah Swt memberikan hasil terbaik,” ungkapnya, Kamis (16/10)
Pada 13 Juni, Israel melancarkan agresi militer secara terbuka dan tanpa alasan terhadap Iran, sehingga memicu Perang 12 Hari yang menggugurkan sedikitnya 1.064 orang di Iran, termasuk sejumlah komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.
AS melibatkan diri dalam perang tersebut dengan mengebom tiga situs nuklir Iran, sebuah pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Pasukan Iran lantas melancarkan serangan balik yang menyasar situs-situs strategis di wilayah pendudukan serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah.
Jenderal Fadavi menambahkan bahwa sekitar 60 persen martir perang adalah anggota IRGC, dan bahwa pengorbanan diri mereka membuka jalan bagi kekalahan telak koalisi musuh.
“Kemenangan dalam perang 12 hari menunjukkan bahwa Revolusi Islam telah mencapai titik tidak hanya di bidang iman dan perlawanan, melainkan juga di bidang sains dan teknologi di mana ia dapat menggagalkan semua kekuatan dunia. Ini merupakan pemenuhan janji Allah bahwa kemenangan umat beriman adalah suatu kepastian,” tegasnya.
Pada tanggal 24 Juni, dengan serangan baliknya terhadap Israel dan AS, Iran berhasil menghentikan serangan teroris.
Situs web berita independen terkemuka Amerika, Grayzone, pada hari Senin mengungkapkan bahwa selama perang 12 hari di bulan Juni, Iran merudal menara hunian Da Vinci di pusat kota Tel Aviv di atas bunker rahasia intelijen Israel-AS yang dikenal sebagai Situs 81.
Serangan tersebut sangat presisi, menghantam beberapa lokasi militer dan intelijen strategis, termasuk universitas yang terkait dengan militer, seperti Institut Weizmann, yang mengalami kerusakan dengan kerugian senilai $570 juta.
Sensor ketat Israel mencegah pelaporan terperinci tentang dampak serangan-serangan Iran. Outlet media ditekan dan jurnalis dipaksa menjauh dari lokasi dampak. Serangan tersebut menunjukkan akurasi rudal Iran dan menyebabkan kerusakan fatal pada infrastruktur sensitif militer Israel. (mm/presstv)