AbuDhabi, LiputanIslam.com – Komandan utama Angkatan Udara AS di Timur Tengah mengklaim bahwa pasokan drone pembawa bom oleh Iran ke Rusia dapat membuat Moskow membantu program Teheran menjadi lebih mematikan.
Letjen Alexus Grynkewich, kepala Pusat Angkatan Udara AS, menyebutkan adanya potensi bahaya yang ditimbulkan oleh “kerja sama dan kolusi” Rusia dengan Iran yang meluas dari wilayah udara di Suriah, sementara Teheran mengancam kapal-kapal komersial di perairan Teluk Persia.
Pilot-pilot AS telah menghadapi apa yang mereka gambarkan sebagai manuver yang lebih agresif dari pilot-pilot Rusia di Suriah, sementara pengerahan baru kekuatan udara AS telah dikirim untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur utama 20% dari seluruh produksi minyak dunia.
“Saya prihatin dengan berkembangnya hubungan antara Rusia dan Iran dan pasokan drone ke Rusia,” kata Grynkewich kepada wartawan saat konferensi pers di Kedutaan Besar AS di Abu Dhabi, Rabu (20/9).
Dia menambahkan, “Siapa yang mengira bahwa Federasi Rusia perlu pergi ke Iran untuk mendapatkan kemampuan militer, namun kita tetap berada di sana. Artinya, Rusia sebenarnya berhutang budi pada Iran. Saya khawatir dengan tingkat kolaborasi yang mungkin terjadi,”
Misi Iran untuk PBB dan Kedutaan Besar Rusia di Washington tidak segera menanggapi permintaan AP untuk mengomentari pernyataan perwira tinggi AS tersebut.
Grynkewich mengaku khawatir bahwa peningkatan teknologi drone Iran oleh Rusia dapat memberikan dampak buruk dan membuat perangkat pembawa bom tersebut menjadi lebih berbahaya.
Menurutnya, karena berhutang pada Iran atas amunisinya, maka Rusia dapat membalasnya dengan meningkatkan tekanan terhadap pilot AS yang masih terbang di Suriah dan Irak.
Grynkewich mengatakan, “Mungkin ada sejumlah kerja sama dan kolusi antara Rusia dan Iran yang terjadi di Suriah. Kita akan lihat ke mana arahnya. Itu adalah sesuatu yang kami perhatikan dengan cermat. Hubungan yang berkembang ini menjadi perhatian militer bagi saya.” (mm/ap)
Baca juga: