
Hadramaut, LiputanIslam.com – Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait dengan proksi masing-masing yang bersiteru di bagian selatan Yaman dilaporkan terus meningkat, dari yang semula hanya sebatas verbal berubah menjadi aksi militer dan serangan udara.
Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung oleh UEA dalam beberapa minggu terakhir telah menguasai sebagian besar wilayah provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, yang kaya minyak dan strategis di Yaman timur. Langkah ini telah mendapat penentangan keras dari pemerintahan Rashad Al-Alimi, yang didukung Saudi.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, juru bicara STC menyebut tindakan Rashad Al-Ulaimi sebagai tindakan di luar kesepakatan dan wewenangnya, dan sebagai kudeta terhadap Dewan Kepresidenan (kolektif).
“Keputusan Al-Alimi berada di luar kerangka kesepakatan dan batas wewenangnya,” ujarnya.
Dia menegaskan, “Wewenang telah dialihkan ke Dewan Kepresidenan, bukan kepada Al-Alimi secara pribadi. Al-Alimi tidak berhak membatalkan perjanjian pertahanan bersama.”
Dia mengaku prihatin atas serangan udara Saudi terhadap fasilitas dan pusat militer UEA di Yaman selatan, dan menyebut peran UEA di Yaman selatan terbatas pada pelatihan dan kehadiran dalam kerangka pasukan internasional.
Sebelumnya, Al-Alimi menyebut tindakan STC sebagai kudeta terhadap lembaga-lembaga pemerintah, dan karena itu dia membatalkan perjanjian pertahanan bersama dengan UEA.
Pertukaran tuduhan dan pernyataan keras ini, bersamaan dengan aksi-aksi di lapangan berupa pendudukan wilayah, serangan udara terbatas, dan suplai senjata , menunjukkan peningkatan ketegangan proksi antara dua kelompok yang semula bersekutu di koalisi Saudi dan UEA di Yaman.
Perang kata-kata ini, menurut para pengamat, tidak hanya kembali ke perselisihan lama dan persaingan pengaruh di Yaman selatan, melainkan juga meningkatkan risiko perang proksi langsung antara Saudi dan UEA di wilayah Yaman.
Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman menyerukan kepada STC agar merespon upaya para mediator dan menarik pasukannya dari provinsi Al-Mahra dan Hadramaut serta menyerahkan pasukan tersebut secara damai kepada pemerintah Aden yang berafiliasi dengan Riyadh.
Menanggapi permintaan ini, STC justru menyerukan kepada para pendukungnya untuk mengadakan demonstrasi besar-besaran pada hari Minggu di wilayah Siyun, ibu kota Hadramaut, untuk mendukung STC dan aksinya memperluas kendali atas Hadramaut dan Al-Mahra.
STC juga menyerukan deklarasi resmi kemerdekaan Yaman Selatan dan menolak tindakan yang diambil oleh koalisi Saudi.
Laporan terbaru menyebutkan terjadinya serangan udara Saudi terhadap konvoi militer STC di Hadramaut timur. Turki al-Maliki, juru bicara pasukan koalisi Arab, pada hari Selasa (30/12) mengumumkan serangan terhadap senjata dan kendaraan lapis baja UEA di pelabuhan Mukalla di Yaman selatan. (mm/tasnim)