Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menilai resistensi terhadap AS dan Israel telah memperlihatkan efektivitasnya, serta bersumpah bahwa darah yang ditumpahkan oleh Israel harus dibalas darah, dan menegaskan bahwa pihak yang paling bertanggungjawab di balik semua kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina adalah AS.
Sayid Nasrallah mengatakan pihaknya menggempur Kiryat Shmona di Palestina pendudukan dengan sejumlah rudal Falaq dan Katyusha adalah respon awal atas serangan pasukan Zionis Israel terhadap warga sipil di desa-desa di Lebanon selatan,.
“Wanita dan anak-anak kami terbunuh di Nabatieh, Al-Sowanah dan desa-desa lain di selatan, musuh akan membayar harga karena menumpahkan darah mereka,” ungkapnya dalam pidato pada hari Jumat (16/2).
“Harga dari darah ini adalah darah, bukan situs, alat mata-mata, dan kendaraan… Front ini tidak akan berhenti, seberapapun Anda menyerang, membunuh, atau mengancam,” sambungnya.
Sayid Nasrallah menegaskan, “Sebagai pengingat, perlawanan di Lebanon ini memiliki kemampuan rudal yang luar biasa yang memungkinkannya menjangkau dari Kiryat Shmona hingga Eilat.”
Mengenai para pejuang Palestina dia mengatakan, “Apa pun yang dilakukan musuh dan Zionis di Tepi Barat dan Gaza, Amerika dan Israel harus memahami bahwa di Palestina mereka juga menghadapi penduduk yang pantang mundur, seberapa besar pun pengorbanannya.”
Dia juga menyinggung para pejuang Yaman dengan mengatakan “Rakyat Yaman terus menyerang kapal-kapal. Meskipun ada agresi Amerika dan Inggris terhadap Yaman dan rakyat Yaman, karena pertempuran mendasar ini terkait dengan perimbangan tekanan demi kepentingan penduduk Gaza.”
Sayid Nasrallah mengatakan pihaknya berada di “jantung pertempuran yang sesungguhnya pada front yang membentang sepanjang lebih dari 100 kilometer.”
Dia juga menjelaskan, “Perlawanan rakyat telah membuktikan efektivitasnya dalam mencapai pembebasan… Perlawanan di Lebanon dan Palestina merusak keseimbangan pencegahan Israel dan menghancurkan citranya. Sudah lebih dari empat bulan dan dengan kehadiran beberapa divisi, tentara Israel bertempur di wilayah seluas 350 kilometer, dan orang yang melawan mereka adalah rakyat dengan kemampuan sederhana, dan ini merupakan perlawanan yang legendaris, dengan ketabahan rakyat Gaza yang legendaris.”
Sayid Nasrallah menegaskan, “Kita harus berpegang teguh pada senjata, kemampuan, dan kehadiran perlawanan lebih dari sebelumnya. Inilah yang membuat musuh takut dan jera, dan inilah keuntungan dari perlawanan rakyat.”
Dia menilai resistensi membuat musuh mengalami krisis eksistensial, yang puncaknya terlihat pada “Badai Al-Aqsa”.
Mengenai Dunia Islam, dia juga menyoal, “Bukankah merupakan suatu kehinaan dan kelemahan bahwa negara-negara yang memiliki dua miliar penduduk Muslim tidak dapat memberikan obat-obatan dan makanan kepada masyarakat Gaza?”
Dia lantas menekankan bahwa kehinaan itu merupakan “salah satu dari hasil dari pilihan menyerah.”
Sekjen Hizbullah juga menyebutkan bahwa seluruh dunia menghendaki penghentian Perang Gaza, kecuali pemerintah AS, yang menurutnya, bahkan melebihi Israel sendiri dalam berambisi menumpas Hamas. Karena itu, Sayid Nasrallah menegaskan, “Setiap darah yang tumpah di Gaza dan di semua kawasan, pihak pertama yang bertangggungjawab adalah Biden, Austin dan Blinken.” (mm/alalam)