Teheran, LiputanIslam.com – Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayjen Abdollahi, menegaskan kepada musuh-musuh Iran bahwa masa “gempur lalu kabur sudah usai untuk selamanya”, dan karena itu segala bentuk serangan terhadap wilayah Iran akan segera dibalas sengit oleh Angkatan Bersenjata negara ini.
Mengomentari ancaman terbaru presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran, Abdollahi menyatakan bahwa AS sepenuhnya menyadari konsekuensi dari setiap kesalahan perhitungan, dan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran, keamanannya, atau kepentingan rakyatnya, sejak saat pertama, akan menjadikan semua kepentingan, pangkalan, dan pusat pengaruh AS sebagai target yang sah dan tak terhindarkan dalam jangkauan Angkatan Bersenjata Iran.
Abdollahi mengingatkan bahwa kemampuan pertahanan negara republik Islam ini nyata, efektif, dan tak tergoyahkan, didukung rakyat serta keyakinan, kemauan nasional, dan bertumpu pada sumber daya domestik.
Dia menjelaskan bahwa kemampuan ini tidak hanya mengganggu perhitungan strategis musuh melainkan juga telah berulang kali membuktikan efektivitasnya di lapangan, sebuah fakta yang dipahami dengan baik oleh AS dan semua musuh bangsa Iran lainnya.
Menurutnya, kesalahan strategis AS dan entitas Zionis dalam mendukung kerusuhan, hasutan, dan operasi teroris belakangan ini terhadap Iran, ditambah dengan respon tegas, cerdas, dan menentukan dari rakyat Iran dalam demonstrasi akbar melawan perusuh pada 12 Januari merupakan bukti nyata kegagalan proyek-proyek permusuhan, dan menjadi peringatan yang konsisten bagi para perencana dan pendukungnya.
Abdollahi menjelaskan bahwa ancaman dan pernyataan tidak bertanggung jawab dari presiden AS tidak hanya dikutuk secara luas di dunia Islam, melainkan juga mendakan kecaman serius di dalam AS sendiri, bahkan di Kongres, yang mencerminkan isolasi yang semakin meningkat dan kegagalan berkelanjutan petulangan agresif presiden AS.
Sementara itu, Komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memperingatkan Washington pada hari Kamis bahwa Teheran siap melancarkan serangan militer menyusul protes rakyat, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan Republik Islam tetap tertarik untuk berdialog dengan Washington.
Trump secara konsisten membuka opsi aksi militer baru terhadap Iran setelah Washington mendukung dan berpartisipasi dalam Perang 12 Hari dengan dalih demi melemahkan program nuklir dan rudal Iran.
Namun, kemungkinan tindakan militer langsung AS terhadap Teheran tampak menurun selama seminggu terakhir, setelah kedua pihak berbicara tentang pemberian peluang pada diplomasi, meskipun laporan media AS menunjukkan bahwa Trump masih mempertimbangkan pilihannya.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump mengatakan AS membom fasilitas nuklir Iran tahun lalu untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Iran membantah bahwa programnya bertujuan untuk memperoleh bom nuklir, dan bersikeras bahwa program tersebut murni bertujuan sipil.
“Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Iran ingin berbicara, dan kita akan berbicara,” kata Trump.
Melanjutkan retorikanya yang tidak menentu terhadap Republik Islam, Trump memperingatkan para pemimpin Iran pada hari Selasa bahwa AS akan “menghapus mereka dari muka bumi” jika ia secara pribadi diserang sebagai balasan atas potensi serangan terhadap Ayatullah Khamenei. (mm/alalam/ry)