Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) bahwa jika negara musuhnya ini sampai mengobarkan perang maka skalanya kali ini akan regional.
“Apa yang Anda lihat ialah bahwa terkadang mereka (AS) berbicara tentang perang, dan mengancam, ‘Kami akan datang dengan (mengerahkan) jet tempur dan lain-lain untuk berbuat ini dan itu.’ Ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sejak dahulu sudah berulang kali mengancam bahwa semua opsi tersedia di atas meja, termasuk opsi perang. Mereka selalu mengatakan bahwa semua opsi tersedia di atas meja. Sekarangpun, orang ini (Presiden AS Donald Trump) juga rajin mengatakan, ‘Kami mengerahkan kapal perang dan melakukan ini dan itu,” tuturnya dalam pidato di depan ribuan masyarakat Iran dari berbagai lapisan pada momen hari pertama peringatan 10 Hari Fajar Kemenengan, Minggu (1/2).
Dia menambahkan, “Menurutku, bangsa Iran tak boleh takut kepada hal-hal seperti ini. Bangsa Iran tidak terpengaruh oleh hal-hal demikian, tidak takut berkonfrontasi demi kebenaran. Kita bukan pihak yang memulai, kita tidak ingin menzalimi siapapun, tidak ingin menyerang negara manapun. Tapi terhadap pihak yang tamak yang hendak menyerang dan menyakiti, bangsa Iran pasti akan memberikan pukulan telak.”
Ayatullah Khamenei lantas mengingatkan, “Tentu saja mereka harus tahu bahwa jika kali ini mereka mengobarkan perang maka perang ini akan menjadi perang regional.”
Pada kesempatan ini, dia juga menyinggung berbagai kemajuan Iran selama ini. “Siapa yang menyangka bahwa bangsa Iran suatu hari nanti akan mencapai titik di mana Amerika akan meniru senjata yang diproduksinya? Semua ini adalah hasil dari kepercayaan diri, harapan, dan ambisi yang ditanamkan Imam Khomeini pada bangsa ini, karena beliau adalah perwujudan harapan dan kepercayaan diri, yang menginspirasi rakyat untuk berjuang dan maju.”
Ayatullah Khamenei menyebut pernyataan Trump terkait gelombang kerusuhan di Iran beberapa waktu lalu sebagai bukti kemunafikan pemerintah AS dan Rezim Zionis.
“Di mata mereka, para perusuh yang jumlahnya hanya ribuan orang adalah orang Iran, sedangkan jutaan orang yang berkumpul di seluruh penjuru negara ini pada 12 Januari bukan orang Iran,” terangnya.
Dia memastikan bahwa kontinyuitas permusuhan AS dan para sekutunya terhadap Iran tak lain adalah karena negara Republik Islam ini menganut paham yang berkontradiksi dengan kepentingan kekuatan-kekuatan hegemonik global.
“Permusuhan ini akan terus berlangsung sampai bangsa Iran, dengan keteguhan, tekad dan kemampuannya mengendalikannya semua urusannya, membuat musuh frustasi, dan kita juga akan mencapai tahap ini,” pungkasnya.
Presiden Iran: Negosiasi Tak Bisa Dipaksakan dengan Ancaman
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan sejawatnya dari Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, Minggu, menyatakan bahwa “menyelesaikan masalah melalui diplomasi lebih diutamakan daripada perang,” dan Teheran sangat yakin perang tidak akan menguntungkan Iran, AS, dan pihak manapun di kawasan Timur Tengah.
Pezeshkian menekankan komitmen Teheran untuk menyelesaikan masalah secara diplomatis, dan berharap pihak lain memahami bahwa ancaman dan kekerasan tidak akan memaksa Iran untuk bernegosiasi.
Di pihak lain, presiden Mesir menekankan bahwa solusi diplomatik adalah satu-satunya cara terbaik untuk penyelesaian krisis dengan apa dapat membuat kawasan Timur Tengah terhindar dari ketegangan dan ketidakstabilan lebih lanjut. (mm/alalam)