
Baghdad, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Brigade Hizbullah al-Nujaba yang berbasis di Irak menyatakan masih akan membalas serangan AS terhadap posisi –posisi kelompok-kelompok pejuang Irak, dan menekankan bahwa pasukan Irak belum membalas dendam secara penuh atas agresi AS.
Sekjen Hizbullah al-Nujaba Syeikh Akram al-Kaabi pada hari Minggu (25/2) menyatakan bahwa penghentian serangan oleh pejuang Resistensi Islam Irak (IRI), sebuah kelompok payung anti-teror , terhadap posisi AS tidak berarti bahwa IRI tidak akan membalas atas serangan udara AS yang menewaskan sejumlah pejuang perlawanan di Irak dan Suriah beberapa waktu lalu.
“Ketenangan saat ini adalah taktik sementara untuk reposisi dan penempatan kembali, dan pada kenyataannya merupakan ketenangan sebelum badai… Kami tidak akan puas dengan balas dendam kecil, bahkan dengan balas dendam yang setara, dan penjajah akan menyesali setetes darah murni yang tertumpah di tanah suci Irak,” imbuhnya.
Al-Kaabi memastikan kelompok perlawanan Irak akan melanjutkan operasi mereka dengan tujuan mengusir pasukan asing pimpinan AS keluar dari negara Arab dan menyerang kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah.
“Mereka tidak akan pernah mengingkari komitmen mereka terhadap perjuangan Palestina, dan akan tetap setia membela Palestina,” tuturnya.
Dia menyebutkan bahwa IRI telah melakukan pengorbanan yang sangat besar sejak Israel menggempur Gaza dimulai pada 7 Oktober tahun lalu.
“Koordinasi antar front Poros (Perlawanan) sangat baik. Tenang di satu front dan melancarkan (dalam pertempuran) di front lain adalah strategi yang disengaja, mempunyai tujuan dan terkoordinasi,” kata Kaabi.
Abu Baqer al-Saadi, komandan yang bertanggung jawab atas operasi Brigade Hizbullah di Suriah, gugur bersama dua rekannya pada tanggal 7 Februari akibat serangan drone AS yang menghantam mobil yang sedang bergerak di sebelah timur ibu kota Irak, Baghdad.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada saat itu bahwa mereka telah membunuh “komandan yang bertanggung jawab merencanakan dan berpartisipasi langsung dalam serangan terhadap pasukan AS di kawasan.”
Pemerintah Irak mengutuk keras pembunuhan Al-Saadi dan menyatakan bahwa serangan AS yang berulang kali di Irak merupakan penyebab instabilitas dan mendorong Baghdad untuk mengakhiri kehadiran pasukan AS.
Yahya Rasool, juru bicara militer Perdana Menteri Irak Mohammad Shia’ al-Sudani, menyebut koalisi AS “telah menjadi faktor instabilitas dan mengancam untuk melibatkan Irak dalam siklus konflik.”
“Jalur ini mendorong pemerintah Irak lebih dari sebelumnya untuk mengakhiri misi koalisi yang telah menjadi faktor ketidakstabilan di Irak,” katanya.
Awal bulan ini, setidaknya 16 orang Irak gugur akibat serangan udara AS yang diperintahkan oleh Presiden AS Joe Biden menyusul serangan drone terhadap pos militer AS di perbatasan Yordania dengan Suriah, yang menyebebkan sejumlah besar tentara AS tewas dan luka.
Agresi AS telah menyebabkan pemerintah Irak mendorong Washington untuk membahas batas waktu penarikan pasukannya dari negara Arab tersebut.
Ada sekira 2.500 tentara AS di Irak yang disebut bertujuan memberikan nasihat dan membantu pasukan lokal untuk mencegah kebangkitan kelompok teroris ISIS. Namun, mereka telah berulang kali menyerang kelompok pejuang yang terintegrasi dalam angkatan bersenjata resmi Irak. (mm/presstv)