
Damaskus, LiputanIslam.com – Sedikitnya 101 orang tewas selama dua hari terakhir di pinggiran kota Damaskus dalam bentrokan sengit antara militan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) yang berkuasa dan pejuang dari komunitas agama Druze setempat, kata sebuah laporan pada hari Kamis (1/5).
Lembaga Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menyatakan bahwa bentrokan di Jaramana pada hari Selasa dan Rabu menewaskan 10 warga sipil serta 30 loyalis pemerintahan HTS dan 21 orang bersenjata Druze.
40 militan Druze lainnya tewas, 35 di antaranya peristiwa dalam “penyergapan” pada hari Rabu, di jantung Druze di provinsi selatan Suriah, Suwayda, menurut lembaga yang berbasis di Inggris itu.
Pertempuran itumerupakan episode terbaru dari kekerasan sektarian di Suriah sejak militan takfiri menguasai negara itu setelah jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada awal Desember.
Bentrokan pecah setelah beredarnya rekaman audio di media sosial di mana seorang pria diduga menghina Nabi Muhammad (saw). Rekaman itu dikaitkan dengan Marwan Kiwan, seorang agamawan Druze, yang akhirnya membantah keterlibatan dirinya.
“Saya dengan tegas membantah bahwa rekaman itu dibuat oleh saya. Saya tidak mengatakan itu dan siapa pun yang membuatnya adalah orang jahat yang ingin memicu pertikaian di antara sebagian masyarakat Suriah,” kata Kiwan dalam sebuah video yang diunggahnya.
Rezim yang dipimpin HTS menyatakan pihaknya sedang menyelidiki rekaman audio tersebut, dan bahwa penyelidikan awal menunjukkan bahwa agamawan tersebut tidak bertanggung jawab atas rekaman itu.
Meskipun demikian, militan HTS menggunakan rekaman itu sebagai dalih untuk menyerang komunitas Druze, yang menyebabkan kematian dan kehancuran.
Situasi keamanan di Suriah di bawah HTS, yang notabene sempalan kelompok teroris al-Qaeda, masih belum pasti. Insiden kekerasan sektarian, termasuk pembantaian ratusan orang Alawi pada bulan Maret, telah memperparah ketakutan di antara kelompok minoritas tentang militan yang sekarang dominan.
Sejak pemerintahan Assad runtuh pada bulan Desember, Suriah juga dilanda pendudukan Israel yang meluas di sebagian besar wilayah selatan negara itu.
Suriah juga dilanda ratusan serangan udara Israel, yang sebagian besar menyasar infrastruktur militer milik bekas tentara Suriah.
Menteri urusan militer Israel Katz mengatakan pada hari Minggu bahwa Israel berencana untuk mempertahankan pasukan pendudukannya di Lebanon selatan dan Suriah “tanpa batas waktu.”
Pada hari Kamis, TV Al Mayadeen Lebanon, mengutip sumber-sumber lokal, mengatakan tentara Israel sedang membangun dua pos terdepan baru di pedesaan Damaskus, yang menghadap distrik Hasbaya di Lebanon selatan.
Agresi Israel yang semakin intensif terhadap Suriah terus berlanjut meskipun pemimpin HTS Abu Mohammad al-Jolani berulang kali mendekati rezim pendudukan.
Kamis lalu, Anggota Kongres AS Cory Mills yang bertemu Jolani di Damaskus mengatakan kepada Bloomberg bahwa pemimpin de facto Suriah itu menginginkan normalisasi hubungan dengan Israel dan Mills membawa surat darinya tentang ini untuk Trump. (mm/presstv)