Gaza, LiputanIslam.com – Jalur Gaza diwarnai peningkatan operasi militer Israel, yang telah menjatuhkan sejumlah besar korban sipil, termasuk lima jurnalis, di berbagai daerah.
Sumber-sumber medis menyebutkan jumlah korban gugur akibat serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza pada hari Ahad (18/5) mencapai sekitar 153 orang, sementara ratusan lainnya terluka.
Dilaporkan bahwa tentara Israel kini mempraktikkan bentuk paling brutal dalam pembersihan etnis dan genosida, membantai warga Palestina di Gaza utara dan selatan, dan menyerang rumah-rumah warga sipil dan seluruh keluarga yang ada di dalamnya.
Sumber media menyebutkan lima jurnalis, termasuk jurnalis Nour Qandil, suaminya, dan putri mereka, gugur dalam serangan udara Israel di rumah mereka di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah.
Para jurnalis yang terbunuh itu diketanuhi bernama Abdul Rahman Al-Abdallah, Khaled Abu Seif, Aziz Al-Hajjar, Ahmed Al-Zinati, dan Nour Qandil.
Tentara pendudukan Israel mengumumkan dimulainya serangan darat skala besar di Jalur Gaza utara dan selatan.
Juru bicara militer mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu bahwa pasukan militer telah memulai operasi darat skala besar di seluruh Jalur Gaza utara dan selatan “sebagai bagian dari pembukaan Operasi Gideon.”
Disebutkan bahwa Angkatan Udara melancarkan serangan pembuka minggu lalu, “menyerang lebih dari 670 target” untuk mengganggu persiapan perlawanan di Jalur Gaza dan “dalam rangka mendukung operasi darat.”
Eskalasi ini terjadi meskipun seruan makin menguat di Israel untuk penghentian perang dan penyelesaian perjanjian pertukaran tawanan yang komprehensif.
Seorang pejabat militer senior Israel kepada Yedioth Ahronoth mengatakan , “Kita tidak punya pilihan selain bernegosiasi dengan Hamas dan mencapai kesepakatan jika kita ingin mengembalikan para tawanan hidup-hidup.”
Pejabat itu menjelaskan, “Operasi yang direncanakan di Jalur Gaza tidak memiliki rencana apa pun yang terkait dengan tawanan, dan hanya sekadar pernyataan umum. Israel telah berupaya selama berbulan-bulan untuk memulangkan para tahanan melalui tekanan militer, tapi tidak berhasil.” (mm/anadolu/almayadeen)