London, LiputanIslam.com – Menyusul serangan pesawat nirawak dan rudal Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah pada 18 September lalu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan membunuh pemimpin kelompok pejuang Ansarullah, Sayyid Abdul Malik al-Houthi.
“Abdul-Malik al-Houthi, waktumu akan tiba. Kau akan diutus untuk menemui sidang paripurna pemerintahanmu dan semua anggota poros kejahatan yang telah disingkirkan yang menunggu di kedalaman neraka,” sumbarnya di X.
“Slogan ‘Mampus Israel, Laknat bagi Yahudi’ yang tertulis di bendera Houthi akan digantikan oleh bendera biru-putih Israel yang akan berkibar di atas ibu kota Yaman yang bersatu,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, Abdel Bari Atwan, jurnalis senior Arab asal Palestina di London, yang menjadi pamred media online Ray al-Youm, pada 20 September 2025 menyebut ancaman itu sebagai “gejala linglung parah (delirium) yang sulit diterapi oleh psikater”.
Berikut ini tanggapan Atwan di media tersebut;
Setidaknya kita dapat menggambarkan sesumbar yang dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang mengancam akan membunuh Sayyid Abdul-Malik al-Houthi dan mengibarkan bendera Israel di Sanaa, merefleksikan gejala delirium yang sulit diobati oleh psikiater.
Uniknya, Katz mengeluarkan ancaman demikian hanya beberapa hari setelah 12 pesawat Israel gagal membunuh mujahid Khalil al-Hayya dan beberapa pemimpin Hamas lainnya di luar negeri dengan mengebom markas mereka di ibu kota Qatar, Doha. Kegagalan ini mengungkap mitos superioritas intelijen Israel, yang mencapai puncaknya dengan pembunuhan beberapa pemimpin Hizbullah di Lebanon, terutama Pemuka Syuhada, Sayyid Hassan Nasrallah, dan Serangan Pager, yang peringatan pertamanya sedang kita peringati. Superioritas ini mulai terkikis dengan cepat setelah tinjauan yang berhasil.
Mungkin ada baiknya untuk mengingatkan Katz dan bosnya, Benjamin Netanyahu, bahwa pihak yang menghalau tujuh juta pemukim Israel ke tempat perlindungan dan terowongan kereta api hampir setiap malam adalah rudal hipersonik Yaman, “Palestine 1” dan “Palestine 2”. Pihak inilah yang juga menutup dua bandara utama di negara pendudukan, Bandara Lod (Bandara Ben Gurion) dan Bandara Ramon di Negev, hampir secara permanen. Pihak yang menyebabkan kebangkrutan pelabuhan Umm al-Rashrash (Eilat) di muara Laut Merah, yang drone-nya mencapai salah satu hotelnya kemarin setelah menembus semua pertahanan rudal dan radar udara, adalah orang-orang Yaman, yang tidak pernah meninggalkan mujahidin di Gaza, dan memblokir Laut Merah bagi kapal dan agen Anda.
Bukan bendera Israel yang akan berkibar di atas Sanaa, melainkan bendera Palestina yang akan berkibar di atas tiang-tiang Al-Quds (Yerusalem) dan seluruh kota Palestina pendudukan. Negara yang telah mengerahkan seluruh persenjataannya, mulai dari rudal dan tank, hingga perang pemusnahan, kelaparan, pembersihan etnis, dan pengungsian internal untuk membasmi perlawanan dan menundukkan rakyat Palestina di Jalur Gaza selama 23 bulan, tidak akan berani mengirimkan barang satu tank pun ke Sanaa, yang justru telah mengalahkan dan memaksa AS memohon gencatan senjata demi menghentikan serangan rudal terhadap kapal induk dan fregat angkatan lautnya di Laut Merah.
Pihak yang aksinya di Yaman hanya sebatas menyerang pesawat sipil di bandara sipil Sanaa, dan yang pertahanan udaranya telah gagal menghentikan sebagian besar rudal dan drone Yaman, harus berhenti mengeluarkan gertak sambal. Pertama-tama, mereka harus merebut kembali kapal Galaxy Israel yang dipermalukan dan malah bersandar di pelabuhan Hodeidah Yaman.
Agar Bintang Daud biru berkibar di langit Sanaa, seperti yang disumbarkan Jenderal Katz, mereka harus mengirimkan pasukan mereka untuk mendudukinya. Kami pastikan kepada mereka bahwa Yaman akan akan memberikan sambutan “hangat dan layak”.
Sebagai penutup, kami sampaikan kepada Jenderal Katz bahwa era di mana Anda membanggakan keunggulan intelijen dan operasi-operasi gemilang telah mulai terkikis, dan Anda bangkit dari satu kekalahan ke kekalahan lainnya, dimulai dengan “Badai Al-Aqsa” dan berlanjut dengan kegagalan besar di Doha, yang diakhiri dengan operasi pahlawan Yordania Abdul Mutalib Al-Qaisi, yang menyusup ke intelijen Israel dan melancarkan operasi jihadnya, menewaskan dua tentara Israel di perlintasan Karameh di perbatasan Yordania-Palestina.
Janganlah lupa pula bahwa kontinyuitas heroisme dan perlawanan di Jalur Gaza selama dua tahun. Hari-hari mendatang juga akan membawa banyak terobosan heroik. Perguliran waktu akan membuktikannya.
(mm/ry)