Sanaa, LiputanIslam.com – Yaman, khususnya ibu kota Sanaa, diwarnai demonstrasi besar-besaran yang melibatkan jutaan warga yang mengutuk penistaan Al-Quran, menyusul pernyataan ofensif seorang kandidat Senat AS.
Demonstrasi dilakukan di berbagai provinsi di mana para peserta mengangkat mushhaf Al-Quran sembari memekikkan slogan-slogan yang menegaskan Al-Quran sebagai “garis merah,” dan mengingatkan bahwa penistaan terhadapnya merupakan serangan terhadap keyakinan suci umat Islam.
Para demonstran juga menegaskan kembali dukungan kepada Palestina, dan bahwa Yaman akan tetap terlibat dalam isu-isu utama umat Islam.
Mereka menyatakan bahwa kesiapan untuk “babak konfrontasi berikutnya dengan musuh (Israel dan sekutunya)” adalah pilihan yang tidak dapat dinegosiasikan, dan bahwa mobilisasi, persiapan, dan dukungan finansial akan terus berlanjut “sampai janji kemenangan terpenuhi.”
Deklarasi yang dirilis dalam demonstrasi tersebut memastikan bahwa penghinaan berulang terhadap Al-Qur’an bukanlah “tindakan individu,” melainkan bagian dari “perang komprehensif terhadap identitas, iman, dan kesucian umat Islam.”
Disebutkan bahwa kampanye anti-Islam dipimpin oleh AS, Israel, dan Inggris, di tengah keterlibatan internasional dan “kebungkaman Arab yang memalukan.”
Deklarasi itu juga mendesak negara-negara Muslim untuk mengambil langkah-langkah kongkret terhadap eskalasi pelanggaran, dan menyerukan boikot produk AS dan Israel sebagai “langkah moral dan keagamaan yang membantu melawan ketidakadilan dan mencegah dukungan kepada rezim yang melanggar nilai-nilai suci.”
Pekan lalu di Plano, Texas, AS, kandidat Senat Partai Republik Florida, Jake Lang, memicu kecaman setelah menodai Al-Quran dalam demonstrasi publik.
Tindakan itu menuai kecaman dari umat Islam, pembela HAM, dan pengamat internasional, yang menyebutnya sebagai penghinaan provokatif terhadap keyakinan agama. (mm/alalam)