Karbala, LiputanIslam.com – Jutaan peziarah dari pelbagai penjuru dunia berkumpul di kota Karbala, Irak, untuk memperingati Arbain, hari ke-40 kesyahidan Imam Husein (as), cucunda Nabi Muhammad saw, yang gugur di Karbala pada 10 Muharram 61 H.
Mereka berjalan kaki atau melakukan pawai sejauh puluhan hingga ratusan kilometer dari berbagai arah sejak beberapa hari lalu menuju makam Imam Husein as di Karbala, dan berkumpul di kota ini pada puncak peringatan Arbain pada hari Kamis (14/8).
Di sepanjang rute jalan kaki, telah didirikan ribuan maukib atau semacam posko layanan yang dibuka oleh relawan dari berbagai negara, dan menyediakan berbagai layanan secara gratis, termasuk makanan, minuman, tempat istirahat dan perawatan medis, kepada jutaan peziarah.
Pawai Arbain adalah salah satu perkumpulan keagamaan tahunan terbesar di dunia, di mana para peziarah mengenang perjuangan dan pengorbanan Imam Husain as, yang merupakan ikon sepanjang masa dalam perlawanan terhadap penindasan, despotisme dan ketidakadilan.
Imam Hussein as dan 72 sahabatnya gugur syahid dalam pertempuran tak seimbang melawan pasukan Yazid, penguasa dari Bani Umayyah yang lalim di Karbala di Irak selatan pada tahun 680 M.
Di jalur pawai peziarah antara Najaf dan Karbala juga membahana suara solidaritas dengan Palestina dari Maukib Nida’ Al-Aqsa (Panggilan al-Aqsa), yang mempertemukan para agamawan dan tokoh tertemuka dari berbagai negara Arab dan Islam serta asing dalam sebuah panorama yang memanifestasikan kesatuan sikap Islam dan kekuatan risalah al-Husain.
Para pemuka agama dan pemikir dari Palestina hadir di sini demi menjadikan maukib ini sebagai platform global untuk menegaskan kesatuan isu umat Islam dan merajut kebangkitan abadi Imam Husain as dengan perlawanan terhadap kezaliman, agresi dan okupasi di mana pun dan kapanpun.
Syeikh Abd Salim, anggota Himpunan Ulama Muslimin Palestina mengatakan, “Dalam panggilan al-Aqsa di jalur Karbala terjadi pertemuan antara keteraniyaan al-Husain dan keteraniayaan penduduk Gaza, demikian pula pertemuan kaum merdeka dunia di Karbala dengan kaum merdeka Gaza. Madrasah al-Husain bukan lagi satu-satunya di dunia, sebab telah muncul madrasah baru bernama “Madrasah Gaza”.
Abdul Malik Sakriya, Sekretaris Kampanye Global Pemulangan Pengungsi Palestina mengatakan, “Maukib Nida’ al-Aqsa adalah Palestina di jalur longmarch agar jutaan peziarah Imam Husain as dapat menyaksikan bendera-bendera Palestina dan mengetahui keadaan Palestina. Ikatan antara Karbala Imam Husain as dan Karbala modern di Palestina adalah faktor yang mendekatkan antarbangsa dan menyatukan umat.”
Maukib Palestina, yang memberikan layanan dan dukungan mental bagi para peziarah, berubah menjadi pusat pertukaran visi dan pengalaman antarbangsa dunia yang beraneka ragam namun satu tujuan dalam suatu panorama kemanusia dan spiritual yang mengemas risalah ziarah Arbain untuk membela kaum tertindas dan melawan aksi bejat dan genosida yang dilakukan oleh kaum Zionis.
Syeikh Hossein Sharif, anggota Dewan Ulama Palestina, mengatakan, “Kami sebagai alim ulama Palestina dari dalam maupun luar Palestina datang kemari untuk berada di sini, Karbala al-Husain as, demi menegaskan bahwa spiritualitas darah-darah suci (Palestina) ini sungguh telah mendapat pancaran dari darah al-Husain as, dan bahwa darah syuhada nan agung ini telah dipengaruhi oleh darah al-Husain as.” (mm/alalam)