Marrakesh, LiputanIslam.com – Pemerintah Maroko, Sabtu (9/9) mengumumkan tiga hari berkabung nasional setelah gempa berkekuatan 6,8 skala Richter menewaskan sedikitnya 2.012 orang dan melukai 2.059 orang lain, dan banyak yang kehilangan tempat tinggal.
Gempa bumi itu tercatat paling paling mematikan di Maroko selama lebih dari 60 tahun. Tim penyelamat kini berpacu mencari korban selamat di antara puing-puing rumah yang runtuh di desa-desa pegunungan terpencil.
Raja Maroko Mohammed VI memerintahkan angkatan bersenjata untuk memobilisasi tim pencarian dan penyelamatan khusus dan rumah sakit lapangan bedah.
Gempa yang menggetarkan pegunungan High Atlas di Maroko pada Jumat malam itu merusak bangunan bersejarah di Marrakesh – kota terdekat dengan pusat gempa – sementara sebagian besar korban jiwa dilaporkan di daerah pegunungan di selatan di provinsi Al-Haouz dan Taroudant.
Di desa pegunungan Tafeghaghte dekat pusat gempa, hampir tidak ada bangunan yang masih berdiri.
Pusat gempa berada di kedalaman 18,5 km dan terjadi sekitar 72 km timur laut Marrakesh, kata Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Palang Merah mengatakan pihaknya mengerahkan sumber daya untuk mendukung Bulan Sabit Merah Maroko.
Angkatan bersenjata Maroko akan mengerahkan tim penyelamat untuk menyediakan air minum bersih, persediaan makanan, tenda dan selimut kepada daerah yang terkena dampak.
Reaksi pun mengalir dari komunitas internasional. Aljazair, yang memutuskan hubungan dengan Maroko pada tahun 2021 setelah meningkatnya ketegangan antar negara yang berfokus pada konflik Sahara Barat, mengatakan akan membuka wilayah udaranya untuk penerbangan kemanusiaan dan medis.
Meskipun banyak tawaran bantuan dari seluruh dunia, pemerintah Maroko belum secara resmi meminta bantuan, sebuah langkah yang diperlukan sebelum kru penyelamat dari luar dapat dikerahkan.
Gempa tersebut tercatat pada kedalaman 18,5 km, biasanya lebih dahsyat dibandingkan gempa dalam dengan kekuatan yang sama. Ini adalah gempa bumi paling mematikan di Maroko sejak tahun 1960 ketika gempa tersebut diperkirakan menewaskan sedikitnya 12.000 orang, menurut Survei Geologi AS. (mm/aljazeera)