Washington, LiputanIslam.com – Angkatan Laut AS mengumumkan pada hari Senin (28/4) bahwa jet tempur F-18 jatuh dari kapal induk USS Harry Truman dalam operasi di Laut Merah, dan seorang pelaut terluka dalam peristiwa ini.
Insiden ini terjadi beberapa jam setelah Yahya Saree, juru bicara militer Yaman kubu Ansarullah, mengumumkan bahwa kapal induk AS USS Harry Truman telah menjadi sasaran serangan Yaman di Laut Merah, sebagai bagian dari “respon terhadap pembantaian yang dilakukan Amerika terhadap warga sipil di Yaman.”
Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut AS mengatakan, “Seorang pelaut mengalami cedera ringan ketika sebuah F-18 jatuh dari kapal induk selama operasi di Laut Merah.”
Mereka juga menyatakan bahwa “semua anggota kru yang tersisa baik-baik saja, dan keadaan kecelakaan saat ini sedang diselidiki.”
Mereka menjelaskan bahwa kapal induk tersebut kehilangan “sebuah pesawat F/A-18E Super Hornet dari Skuadron Tempur ke-136 (VFA), selain sebuah kapal tunda, dalam operasinya di Laut Merah.”
Jet tempur tersebut sedang ditarik ketika awak transportasi kehilangan kendali, menyebabkannya jatuh ke laut, menurut pernyataan yang sama.
“Para pelaut yang sedang menarik pesawat tersebut segera mengambil tindakan untuk menjauh darinya sebelum pesawat tersebut jatuh ke laut,” terang mereka, sembari memastikan bahwa kelompok kapal induk USS Harry Truman dan sayap udaranya “tetap sepenuhnya siap menjalankan misi.”
CNN mengutip seorang pejabat anonim yang mengatakan, “Pesawat itu tenggelam, dan jet tempur F-18 berharga lebih dari $60 juta (lebih dari Rp. 1 triliun).”
Pada tanggal 15 Maret, AS melanjutkan serangannya terhadap Yaman sesuai instruksi Presiden Donald Trump kepada militer AS untuk melancarkan “serangan besar” terhadap Ansarullah, sebelum mengancam untuk “menumpasnya secara total”.
Namun Ansarullah mengabaikan ancaman Trump dan melanjutkan pengeboman berbagai target Israel dan kapal-kapal yang menuju ke negara itu di Laut Merah, sebagai tanggapan atas dimulainya kembali perang genosida rezim Zionis tersebut terhadap warga Palestina di Jalur Gaza sejak 18 Maret. (mm/raialyoum)