Teheran, LiputanIslam.com – Militer Iran menyampaikan keterangan detail mengenai ketepatan teknologi rudal Iran, dengan menyebutkan bahwa rudal hipersonik Fattah berhasil menembus jendela kantor seorang pejabat intelijen militer senior Israel selama perang 12 hari pada bulan Juni.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi dalam kata sambutan pada pertemuan di Universitas Sharif di Teheran, Selasa (23/12) mengatakan bahwa kecanggihan persenjataan Iran telah melampaui bahkan sistem pertahanan udara Barat yang termahal sekalipun, tak terkecuali sistem THAAD buatan Amerika, yang sering dipromosikan sebagai perisai yang tak tertembus, dengan rudal pencegatnya yang berharga sekira $10 juta hingga $12 juta per unit.
“Rudal Fattah, yang diproduksi dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada rudal THAAD, berhasil menembus sistem pertahanan tercanggih di dunia,” kata Shekarchi.
Dia mengatakan bahwa serangan Iran dalam perang melawan Israel bukanlah serangan “membabi buta atau tanpa sasaran” melainkan membidik koordinat yang telah ditentukan dengan akurat.
“Salah satu target itu adalah jendela ruang kerja kepala intelijen militer rezim Zionis. Rudal itu menembus jendela tersebut dan menghancurkan bangunan itu. Mereka sama sekali tidak dapat mentolerir kemajuan ini,” ujarnya.
Shekarchi juga mengungkapkan bahwa selama beberapa bulan menjelang Perang 12 Hari dan selama perang ini, pasukan keamanan Iran berhasil menciduk sekitar 2.000 individu yang terindikasi berafiliasi dengan jaringan luas spionase musuh.
“Jaringan mata-mata dan agen musuh yang luas telah dibuat dengan upaya bertahun-tahun dan sejumlah besar uang. Membangun kembali jaringan seperti itu bukanlah pekerjaan sederhana dan akan membutuhkan waktu dan biaya bertahun-tahun,” terangnya.
Menurut Shekarchi, meskipun rezim Israel merasakan fatalnya dampak serangan Iran, pasukan Iran hanya menggunakan sebagian kecil dari total kekuatan militernya.
“Kami memiliki kekuatan besar di laut, serta di pasukan darat kami. Sebagian besar kapasitas Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Basij kami belum dikerahkan,” tegasnya.
Dia juga menyebutkan bahwa meskipun Iran telah menunjukkan ketepatan rudalnya, sebagian besar kekuatan rudal strategisnya tetap “siap sepenuhnya dan belum digunakan.”
Dia menilai bahwa setelah gagal dalam Perang 12 Hari, Israel menggeser taktiknya ke arah “perang lunak” dan operasi psikologis untuk menekan mental publik Iran. (mm/presstv)