Teheran, LiputanIslam.com – Panglima Pasukan Quds Iran, Brigjen Esmail Qaani mengatakan AS dan Israel, dengan segala kehebohan mereka, “secara praktik tidak berdaya ” melawan Iran dan Poros Resistensi.
“Saat ini, satu setengah tahun setelah perang habis-habisan, barisan perlawanan tetap kokoh, kendati menghadapi peralatan musuh yang paling canggih dengan kemampuan yang sangat minim. Gaza, setelah 14 tahun dikepung, tetap teguh, dan ini adalah bukti tekad kuat rakyat,” katanya pada hari Kamis (10/4).
Dia juga mengatakan, “Mereka bahkan tidak dapat memahami mengapa rudal kami secara akurat mengena target mereka. Ini adalah kekuatan kami.”
Tahun lalu, Iran menyerang target militer dan intelijen di dalam wilayah pendudukan Israel dengan salvo rudal pada bulan April dan Oktober. Para pejabat Iran memastikan negara ini hanya mengerahkan sebagian kecil dari daya tembaknya dalam pembalasan ganda tersebut.
Sementara para ahli militer Barat juga telah memperingatkan bahwa serangan di masa mendatang bisa jadi lebih kompleks dan menggunakan lebih banyak rudal, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) minggu lalu meluncurkan “megakota” rudal bawah tanah baru.
Kota rudal itu dipamerkan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Iran dengan pemboman jika tidak tunduk pada tuntutan AS.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Muhammad Bagheri mengatakan pesatnya Iran dalam mengembangkan kekuatan pertahanannya jauh lebih cepat daripada kecepatan pemulihan musuh.
Jenderal Qaani pada hari Kamis menekankan pentingnya swasembada dan produksi dalam negeri. Dia juga memuji kelompok-kelompok perlawanan di kawasan “atas perlawanan dengan sumber daya yang paling sedikit terhadap peralatan canggih musuh”.
“Seperti yang kita lihat di Lebanon dan Yaman, perlawanan telah memberikan pukulan terbesar kepada musuh dengan sumber daya yang terminim,” katanya.
Qaani menyoroti karakteristik unik dari Poros Resistensi, dengan mengatakan “esensi dari perlawanan adalah bahwa siapa pun yang melawannya hanya akan membuatnya lebih kuat.”
Dia juga mengatakan, “Pemuda Yaman yang bahkan tidak dapat mencapai rezim Zionis dengan senjata mereka di awal perang telah meningkatkan jangkauan rudal mereka hingga 600 hingga 700 kilometer dalam satu tahun.”
Dia menambahkan bahwa “kemajuan demikian belum pernah terjadi sebelumnya di mana pun di dunia,” dan bahwa “sumber daya yang tersedia bagi Poros Resistensi saat ini merupakan hasil dari upaya dan inovasi dalam negeri”.
Menurut Ahmed Nagi, analis senior Yaman di International Crisis Group, AS keliru karena percaya bahwa serangan udara dapat memaksa warga Yaman mundur.
Dikutip CNN, Nagi menjelaskan, “Logika mereka dibentuk oleh perang selama bertahun-tahun; mereka melihat ketahanan sebagai bentuk kekuatan dan terdorong untuk membuktikan bahwa mereka tidak mudah dihalangi.”
Farea al-Muslimi, peneliti Yaman di Chatham House kepada CNN mengatakan bahwa mereka mungkin justru menikmati serangan AS, dan operasi mereka mereka merupakan “terkabulnya doa mereka untuk berperang dengan AS”. (mm/presstv)