Teheran, LiputanIslam.com – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, menegaskan bahwa “perang regional apa pun, bahkan jika menargetkan agresor, pasti akan mengganggu kemajuan dan pembangunan kawasan selama bertahun-tahun.”
“Meskipun kami sepenuhnya siap, kami tidak ingin memulai perang regional,” lanjutnya dalam kata sambutan pada pertemuan dengan beberapa komandan dan perwira staf Angkatan Udara dan Pertahanan Udara, pada hari Ahad (8/2).
Mousavi menegaskan bahwa “dampak dari konflik demikian tidak akan terbatas pada pihak yang terlibat secara langsungnya,” dan bahwa “para penghasut perang di Amerika dan Israel akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari memicu konfrontasi regional.”
Sehari sebelumnya, Mousavi memperingatkan, “Tindakan militer terhadap Iran akan menimbulkan kerugian yang tak dapat diperbaiki bagi para perencana dan pendukungnya.”
Dia juga mengatakan, “musuh-musuh Iran sangat menyadari bahwa setiap petualangan yang bertujuan untuk memicu perang terhadap Iran akan berakhir dengan kekalahan yang tak terhindarkan dan akan menyebabkan konflik dan krisis yang lebih luas di kawasan tersebut.”
Dia menambahkan bahwa negaranya “tidak akan memulai perang, tetapi tidak akan ragu untuk membela keamanan nasional, kepentingan, dan kedaulatan wilayahnya,” dan bahwa “setiap petualangan terhadap Iran pasti akan menyebabkan eskalasi konflik di kawasan.”
Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran “berjalan dengan baik,” dan bahwa negosiasi “akan berlanjut awal pekan depan.”
“Kami sedang melakukan banyak negosiasi yang baik. Saya pikir kami telah mencapai hasil positif hari ini dengan Iran. Kami akan bertemu lagi awal pekan depan,” katanya dalam pernyataan pers.
Ia menambahkan, “Pihak Iran lebih bersedia untuk maju daripada satu setengah tahun yang lalu, atau bahkan setahun yang lalu. Teheran ingin membuat kesepakatan.”
Negosiasi tidak langsung antara Iran dan AS di Oman berakhir sementara pada hari Jumat.
Ketegangan antara Iran dan AS sempat meningkat belakangan ini. Kedua pihak saling bertukar ancaman dan peringatan. Hal ini terjadi setelah Departemen Pertahanan AS (Pentagon) merilis Strategi Pertahanan Nasional 2026 pada 24 Januari, yang menyatakan bahwa “Washington percaya Iran mungkin akan mencoba memperoleh senjata nuklir, termasuk dengan menolak untuk menegosiasikan program nuklirnya.”
Dokumen tersebut juga mencatat “niat Teheran untuk membangun kembali pasukannya.” (mm/raialyoum)