Beirut, LiputanIslam.com – Serangan udara Israel telah menghantam beberapa lokasi di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, bertepatan dengan pembicaraan tingkat tinggi di Paris yang bertujuan untuk menekan Lebanon agar melucuti senjata Hizbullah.
Jaringan berita Elnashra Lebanon melaporkan bahwa serangan pada hari Kamis (18/12) menyasar kan daerah-daerah di Lebanon selatan, termasuk al-Jabour, al-Qatrani, dan al-Rayhan, serta Buday dan wilayah Hermel di Lembah Bekaa.
Kantor Berita Nasional (NNA) melaporkan bahwa serangan menghantam dasar sungai dekat Zawtar di distrik Nabatieh dan antara Deir Siryan dan al-Qusayr di Marjayoun.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan setidaknya empat orang terluka di Taybeh, sementara beberapa karyawan perusahaan listrik negara terluka ketika truk mereka lewat di samping kendaraan yang menjadi sasaran.
Menurut Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED), pasukan Israel telah melakukan 1.846 serangan terhadap Lebanon sejak gencatan senjata dimulai.
Frekuensi serangan meningkat pada bulan Desember, dengan rata-rata enam serangan per hari, atau satu serangan setiap empat jam. UNIFIL melaporkan bahwa gencatan senjata telah dilanggar lebih dari 10.000 kali, termasuk lebih dari 2.500 aktivitas darat militer Israel dan lebih dari 7.800 pelanggaran wilayah udara Lebanon.
Citra satelit menunjukkan Israel membangun pangkalan baru di Lebanon selatan sambil mempertahankan kendali atas empat pangkalan lainnya di sepanjang perbatasan.
Kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan penargetan sistematis terhadap peralatan rekonstruksi, dan melaporkan bahwa antara Agustus dan Oktober empat serangan menghancurkan lebih dari 360 buldoser dan ekskavator yang sangat penting untuk rekonstruksi rumah.
Penduduk setempat telah memberi tahu para penyelidik bahwa mereka sekarang membersihkan puing-puing dengan tangan untuk menghindari paparan mesin terhadap serangan udara.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengutuk serangan hari Kamis, dan menyebutnya sebagai “pesan Israel kepada konferensi Paris yang didedikasikan untuk mendukung tentara Lebanon”. Dia menyebutkan bahwa serangan itu bertepatan dengan diskusi tentang pelucutan senjata Hizbullah.
Berri menambahkan secara sarkastis bahwa serangan itu dilakukan “untuk menghormati pertemuan besok” dari mekanisme yang memantau gencatan senjata. Menurutnya, serangan di Lebanon timur dan selatan sebagai serangan yang sengaja diatur waktunya untuk mengirimkan pesan politik.
Mahmoud Qamati, wakil ketua dewan politik Hizbullah, menegaskan pihaknya tidak akan menyerahkan senjatanya “dalam keadaan apa pun”.
Dia memperingatkan bahwa pasukan Hizbullah tidak akan sepenuhnya mundur dari daerah di selatan Sungai Litani, akan mempertahankan kehadiran di sana, dan siap menghadapi segala bentuk agresi.
Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, belum lama ini menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak akan pernah meletakkan senjata. (mm/presstv)