Beirut, LiputanIslam.com – Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan negaranya berisiko terseret ke dalam “perang baru” karena puluhan serangan udara baru, yang menurut Israel menargetkan Hizbullah, telah menggugurkan sedikitnya dua orang.
Salam mengeluarkan peringatan pada hari Sabtu (22/3), dengan mengatakan “operasi militer Israel yang diperbarui di perbatasan selatan” akan membawa “kemalangan bagi Lebanon dan rakyat Lebanon”.
Setidaknya dua orang dipastikan gugur dan delapan lainnya terluka oleh serangan udara Israel, menurut laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon, NNA. Tiga dari korban, termasuk satu dari mereka yang gugur, adalah anak-anak, katanya, mengutip Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat yang dikelola pemerintah.
Artileri dan serangan udara Israel menghantam Lebanon selatan setelah militernya mengatakan telah mencegat tiga roket yang diluncurkan dari distrik Lebanon sekitar 6 km (4 mil) di utara perbatasan bersama mereka.
Israel mengaku telah menyeran peluncur roket yang diklaimnya milik Hizbullah, yang dianggap bertanggung jawab atas peluncuran tersebut.
Hizbullah membantah keterlibatan apa pun dalam serangkaian serangan roket di Israel utara dari Lebanon selatan. Dalam pernyataannya, Hizbullah menuduh Israel membuat-buat dalih untuk memperbarui serangan udaranya.
Hizbullah menegaskan kembali komitmennya terhadap gencatan senjata yang ditandatangani pada bulan November, yang mengakhiri perang selama setahun antara kedua belah pihak.
Mengutip dua sumber keamanan, radio militer Israel melaporkan bahwa respon militer di Lebanon selatan belum berakhir. “Akan ada serangan tambahan dalam beberapa jam mendatang,” kata sumber tersebut.
Pertukaran yang dilaporkan pada hari Sabtu adalah yang pertama sejak Israel pada hari Selasa membatalkan gencatan senjata terpisah di Jalur Gaza dengan kelompok Palestina Hamas.
Lebanon menyalahkan Israel atas konflik yang berlarut-larut tersebut setelah gagal menarik diri dari semua wilayah Lebanon sebagaimana ditetapkan dalam gencatan senjata. Berdasarkan kesepakatan tersebut, batas waktu Januari ditetapkan untuk penarikan Israel , namun Israel memperpanjangnya hingga 18 Februari.
Sejak saat itu, tentara Israel tetap berada di lima lokasi di Lebanon dan militernya telah melakukan puluhanserangan mematikan terhadap target yang diklaim milik Hizbullah namun justru sering kali menyasar warga sipil.
Pada hari Sabtu, Salam menyatakan bahwa “semua langkah keamanan dan militer harus diambil untuk menunjukkan bahwa Lebanon memutuskan masalah perang dan perdamaian”.
Dalam pernyataan terpisah, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk “upaya” untuk mengganggu stabilitas negaranya dan memicu kembali kekerasan seraya menyerukan tindakan untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. (mm/aljazeera)