Quneitra, LiputanIslam.com – Israel melancarkan tiga serangan ke Provinsi Quneitra di barat daya Suriah pada hari Rabu malam (3/12), mengabaikan seruan de-eskalasi dari Presiden AS Donald Trump.
Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan, “Pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan serangan mereka malam ini ke pedesaan utara Quneitra.”
SANA menambahkan, “Pasukan pendudukan yang terdiri dari dua kendaraan memasuki wilayah tersebut pada malam hari dari titik Hamidiya dan bergerak maju ke arah timur Desa Samdaniya al-Gharbiya, mencapai sekitar reruntuhan bangunan di antara Desa Samdaniya al-Gharbiya dan Mash’ala.”
Menurut SANA, sebelumnya di hari yang sama pasukan pendudukan Israel bergerak maju dari titik Adnaniyah menuju desa-desa di pedesaan selatan Quneitra.
Dijelaskan bahwa pasukan Zionis itu bercokol di desa Umm Adham di persimpangan jalan menuju desa Mushairifah dan Sa’aydah, serta desa Ruwayhinah, mendirikan pos pemeriksaan sementara di lokasi tersebut, dan ini terjadi bersamaan dengan pergerakan tiga kendaraan militer Israel ke desa Ruwayhinah di selatan kota Quneitra.
Jumat lalu, sebuah patroli Israel memasuki kota Beit Jinn di pedesaan Damaskus, Suriah selatan, hingga menyebabkan kontak senjata dengan penduduk yang mengakibatkan enam tentara Israel, termasuk tiga perwira, terluka.
Setelah itu, Israel melakukan pembantaian sebagai balasan terhadap penduduk kota itu, yang mencoba mempertahankan tanah mereka, melalui serangan udara yang menewaskan 13 orang, termasuk wanita dan anak-anak, serta melukai sekitar 25 orang lainnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, pertemuan Israel-Suriah telah diadakan dalam upaya mencapai kesepakatan keamanan yang akan memastikan penarikan Tel Aviv dari zona penyangga Suriah yang didudukinya pada Desember 2014.
Meskipun pemerintah Suriah tidak menimbulkan ancaman bagi Tel Aviv, Israel terus melakukan serangan darat dan udara yang telah menewaskan warga sipil dan menghancurkan posisi, kendaraan, senjata, dan amunisi tentara Suriah. (mm/raialyoum)