Beirut, LiputanIslam.com – Seorang pejabat senior Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyatakan bahwa faksi resistensi ini telah menunjukkan “fleksibilitas” dalam merumuskan proposal terbaru untuk gencatan senjata di Jalur Gaza, namun Israel menanggapinya “negatif”.
Osama Hamdan, seorang pejabat Hamas di Lebanon, menyatakan demikian pada konferensi pers di Beirut pada hari Rabu (20/3), ketika putaran baru perundingan, yang melibatkan mediator Mesir, Qatar dan AS, sedang berlangsung di Doha dengan tujuan mengupayakan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
“Gerakan ini menanggapi tuntutan para mediator… dan menunjukkan fleksibilitas yang membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan,” ujar Hamdan.
Namun, sambungnyaa, para mediator “memberi tahu kami tentang sikap rezim okupasi (Israel) terhadap usulan tersebut… Ini adalah tanggapan negatif secara umum dan tidak memenuhi tuntutan dan perlawanan rakyat kami, dan bahkan menyimpang dari” perjanjian sebelumnya.
Hamdan juga mengatakan bahwa Israel mengulur-ulur waktu “untuk menghambat negosiasi dan mungkin membawanya ke jalan buntu.”
Menurutnya, Israel juga meningkatkan agresinya di Gaza pada setiap putaran perundingan gencatan senjata sebagai upaya untuk mendapatkan keuntungan di meja perundingan.
“Kami tegaskan kembali bahwa apa yang tidak dapat dicapai oleh rezim pendudukan melalui pertempuran militer dan kejahatan genosida, tidak akan dapat dicapai dengan tipu muslihat politik dan permainan negosiasi,” tegas Hamdan.
Petinggi Hamas di Lebanon itu menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “penjahat”, kabinetnya yang “teroris”, dan semua pendukung serangan berdarah di Gaza bertanggung jawab atas kegagalan upaya yang bertujuan mencapai kesepakatan pertukaran tahanan.
Dia juga mendesak pemerintahan Presiden AS Joe Biden berhenti mengirim senjata ke Israel dan memberikan dukungan ekonomi dan keuangan kepada rezim pendudukan.
Dia lantas menegaskan, “Rakyat kami, dengan kesabaran, ketabahan, dan pengorbanan mereka, serta perlawanan kami dengan keberanian, kekuatan, dan manajemen yang kompeten dalam pertempuran ini, tidak akan membiarkan musuh, NAZI dan rezim fasisnya mengganti kerugian mereka di Gaza melalui jalur permainan politik dan memperpanjang negosiasi gencatan senjata.”
Israel mengobarkan perang brutal yang didukung AS di Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober setelah Hamas melakukan operasi serangan bersandi Badai Al-Aqsa terhadap entitas perampas tersebut sebagai pembalasan atas kekejaman rezim yang semakin intensif terhadap rakyat Palestina.
Namun, hampir enam bulan setelah serangan, rezim Tel Aviv gagal mencapai tujuannya “menumpas Hamas” dan menemukan tawanan Israel, meskipun telah menewaskan sedikitnya 31.923 warga Palestina, yang sebagian besarnya adalah kaum perempuan dan anak-anak, serta melukai 74.096 lainnya. (mm/presstv)