Gaza, LiputanIslam.com – Klub Tawanan Palestina menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel menahan para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotillah (GSF) di penjara gurun Negev, yang dianggap sebagai salah satu penjara terburuk di Israel dan lokasi pelanggaran berat terhadap tawanan Palestina.
Klub tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (3/10) menjelaskan bahwa penjara Negev adalah salah satu penjara paling terkemuka di mana ratusan kejahatan dan pelanggaran terhadap tawanan Palestina terdokumentasi. Penjara ini menampung ribuan tawanan, termasuk dari Jalur Gaza.
Disebutkan pula bahwa sejumlah tawanan Palestina meninggal di penjara itu akibat penyiksaan dan pemukulan parah yang dilakukan oleh unit-unit represif Israel.
Dalam 48 jam terakhir, otoritas Israel menyita 42 unit kapal GSF saat berlayar di perairan internasional menuju Gaza, menangkap ratusan aktivis internasional di dalamnya, dan mengumumkan akan mendeportasi mereka ke Eropa.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, pada hari Kamis tiba di tempat penahanan para aktivis di kota pesisir Ashdod, di mana rekaman video menunjukkan mereka dipaksa duduk di tanah sambil menunggu pemindahan ke pusat-pusat penahanan.
Klub Tahanan Palestina menambahkan bahwa “klip video yang diunggah oleh Ben Gvir bukanlah yang pertama. Ia sebelumnya telah muncul dalam adegan serupa di dalam Penjara Negev dan di tempat lain, mengancam para tawanan Palestina dan menunjukkan metode penyiksaan dan penghinaan terhadap mereka.”
Menurut klub tersebut, pelanggaran yang dilakukan oleh sistem penjara Israel “melanggar semua hukum dan norma internasional, dan telah mengubahnya menjadi ajang genosida sistematis, terutama selama dua tahun terakhir,” dan apa yang terjadi pada para aktivis merupakan perpanjangan dari kebijakan ini.
Rabu lalu, GSF melalui platform X mengumumkan pihaknya diserang oleh sekitar 10 kapal Israel di perairan internasional, mengeluarkan panggilan darurat, dan menganggap kejadian tersebut sebagai “kejahatan perang.”
Sementara itu, massa besar turun ke jalan di kota-kota Arab dan berbagai negara dunia pada hari Jumat untuk menuntut diakhirinya perang Israel di Gaza dan menolak rencana perdamaian yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. (mm/aljazeera)