Gaza, LiputanIslam.com – Di tengah kebungkaman berbagai lembaga dunia, pasukan Zionis masih terus menebar kejahatan di Jalur Gaza, hingga menjatuhkan banyak korban.
Dilaporkan Al-Jazeera pada hari Senin (24/3), serangan udara Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza, telah menggugurkan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk pejabat senior Hamas Ismail Barhoum. Serangan yang menyasar gedung bedah rumah sakit itu juga menjatuhkan sejumlah korban luka serta menghancurkan lantai dua.
Laporan lain menyebutkan sedikitnya 32 warga Palestina gugur dan beberapa lainnya cedera di Jalur Gaza sejak Senin dini hari, menyusul serangan Israel terhadap rumah-rumah, tenda-tenda pengungsi, dan kendaraan. Peristiwa ini terjadi saat Tel Aviv terus meningkatkan genosidanya sejak 18 Maret.
Sumber medis dan saksi mata menyebutkan jumlah warga Palestina yang gugur dalam serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza pada hari Senin bertambah dari 25 menjadi 32.
Sejak melanjutkan genosida pada 18 Maret, Israel telah membunuh 730 warga Palestina dan melukai 1.367 lainnya, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan kaum wanita, menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.
Eskalasi ini, yang menurut Tel Aviv terjadi dalam koordinasi penuh dengan Washington, merupakan pelanggaran paling signifikan terhadap perjanjian gencatan senjata Gaza, yang fase keduanya tidak dilaksanakan Israel setelah fase pertama berakhir pada awal Maret.
Meskipun Hamas berkomitmen terhadap ketentuan perjanjian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional, menolak untuk memulai tahap kedua, dan memilih menyerah pada tekanan dari para ekstremis dalam pemerintahannya.
Dengan dukungan penuh AS Israel telah melakukan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang menyebabkan lebih dari 163.000 warga Palestina gugur dan terluka. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan wanita. Selain itu, lebih dari 14.000 orang hilang.
Selama puluhan tahun, Israel telah menduduki wilayah di Palestina, Suriah, dan Lebanon, dan menolak penarikan diri dari wilayah tersebut dan menentang pendirian negara Palestina merdeka dengan Al-Quds (Yerusalem) Timur sebagai ibu kotanya, di sepanjang perbatasan sebelum tahun 1967. (mm/aljazeera/railayoum)