Beirut, LiputanIslam.com – Pesawat militer Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara terhadap beberapa wilayah di bagian timur dan selatan Lebanon, dalam pelanggaran mencolok terbaru terhadap perjanjian gencatan senjata yang rapuh dengan negara Arab tersebut.
Dikutip PressTV, Jumat (21/3), kantor berita Lebanon, NNA, melaporkan bahwa pesawat tempur Israel menyerang pinggiran desa Taraya di distrik Baalbek di provinsi Baalbek-Hermel, dan wilayah al-Shaara dekat Janta di kaki pegunungan timur.
Di Lebanon selatan, serangan udara Israel menghantam wilayah antara wilayah Jbaa dan Snaya dengan empat rudal.
Militer Israel mengonfirmasi serangan tersebut dalam sebuah pernyataan, sembari mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan infrastruktur dan peluncur roket milik kelompok pejuang Hizbullah.
“Tentara Israel menyerang lokasi militer yang berisi lokasi infrastruktur bawah tanah di daerah Beqaa (Lembah) di Lebanon,” bunyi pernyataan tersebut.
Lokasi Hezbullah lainnya, yang berisi peluncur roket di Lebanon selatan, juga diserang, tambahnya.
Israel terpaksa menyetujui gencatan senjata dengan Hezbollah setelah mengalami kerugian signifikan selama hampir 14 bulan konflik, gagal mencapai tujuannya dalam serangan terhadap Lebanon. Gencatan senjata mulai berlaku pada tanggal 27 November.
Sejak dimulainya perjanjian tersebut, pasukan pendudukan Zionis telah melakukan serangan hampir setiap hari di Lebanon, melanggar gencatan senjata, yang mencakup serangan udara di seluruh negara Arab tersebut.
Pada tanggal 27 Januari, Lebanon mengumumkan keputusannya untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Israel hingga tanggal 18 Februari.
Meskipun batas waktu 18 Februari telah lewat, Israel tetap menduduki lima wilayah kritis di Lebanon selatan, yang meliputi Labbouneh, Gunung Blat, Bukit Owayda, Aaziyyeh, dan Bukit Hammamis, yang terletak di dekat perbatasan.
Lebanon telah mengecam kehadiran personel militer Israel yang terus berlanjut, yang merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan batas waktu penarikan yang telah ditetapkan. Pejabat tinggi di Beirut telah menyatakan niat mereka untuk “menggunakan semua tindakan” yang diperlukan untuk mengusir pasukan pendudukan dari negara Arab tersebut. (mm/presstv)