Beirut, LiputanIslam.com – Ketegangan di Lebanon meningkat belakangan ini di tengah kekhawatiran akan eskalasi baru militer Israel, menurut seorang sumber keamanan senior. Hal ini terjadi di tengah sikap keras kepala Israel, pelanggarannya berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata, dan kontinyuitas serangannya yang belakangan ini meningkat signifikan.
Kementerian Kesehatan Lebanon pada hari Kamis (23/10) mengumumkan jatuhnya sejumlah korban gugur dan luka akibat serangkaian serangan udara Israel yang menyasar perbukitan timur dan barat Janta dan Shamshtar. Sejumlah siswa terluka dalam serangan itu akibat pecahan kaca jendela di sekolah daerah tersebut.
Sumber-sumber lokal mengatakan serangan udara itu menyasar Janta, Taria, dan Nabi Sheet, hingga Shamshtar. Pinggiran Hermel juga menjadi sasaran, tanpa ada korban.
Serangan Israel menyebabkan ledakan yang terdengar di berbagai wilayah Lembah Bekaa dan Lebanon Selatan, dan terjadi bersamaan dengan penerbangan intensif pesawat nirawak Israel di wilayah udara Lebanon selama lima hari berturut-turut. Serangan itu melanggar wilayah udara Lebanon di atas Istana Baabda saat ada sidang kabinet.
Tentara pendudukan Israel mengklaim bahwa angkatan udaranya menyerang apa yang disebutnya sebagai lokasi militer dan lokasi produksi rudal presisi Hizbullah di Lembah Bekaa dan Lebanon utara. Lokasi yang diserang mencakup infrastruktur militer dan lokasi pelatihan.
Di pihak lain, Hizbullah, menegaskan bahwa kubu perlawanan akan tetap ada dan terus melaksanakan tugas nasionalnya, dan bahwa rakyat berhak membela diri di tengah ketidakmampuan tentara dan pasukan lainnya memenuhi tanggung jawab mereka.
Hassan Ezzedine, qnggota parlemen dari blok Loyalitas kepada Perlawanan, menilai AS-lah yang merencanakan, melaksanakan, dan mengintervensi demi mencapai tujuan Israel secara politik ketika Israel tidak mampu mencapainya secara militer.
Sikap resmi Lebanon, yang dijelaskan oleh Presiden Joseph Aoun, menekankan keharusan mengaktifkan mekanisme kerja komite pengawasan gencatan senjata untuk mengakhiri serangan Israel dan pelanggaran perjanjian.
Dalam sambutannya kepada kepala mekanisme baru, Jenderal AS Joseph Clearfield, Aoun menegaskan bahwa Lebanon berkomitmen pada perjanjian tersebut dan menaruh harapannya pada kerja komite pengawasan untuk mencegah serangan Israel, yang dia sebut tak dapat dibenarkan dan tak dapat diterima. (mm/alalam)