AlQuds, LiputanIslam.com – Tentara Israel pada hari Jumat (28/2) mengumumkan pihaknya telah membunuh petinggi Hizbullah Muhammad Mahdi Ali Shahin dalam serangan di wilayah Hermel di Lebanon timur pada hari Kamis.
“Kemarin (Kamis), sebuah pesawat angkatan udara menyerang wilayah Hermel di bawah arahan Badan Intelijen Militer, dan menewaskan Muhammad Mahdi Ali Shahin,” ujar militer Israel.
Militer Israel mengklaim bahwa Shahin “mengawasi kesepakatan pembelian peralatan tempur di perbatasan Suriah-Lebanon sejak kesepakatan antara Israel dan Lebanon mulai berlaku,” mengacu pada perjanjian gencatan senjata yang dilanggar Tel Aviv dari waktu ke waktu.
“Shaheen adalah salah satu aktivis paling menonjol yang tergabung dalam unit geografis yang bertanggung jawab atas wilayah Bekaa Lebanon di Hezbollah, dan yang belakangan ini bersemangat untuk mentransfer peralatan tempur dari Suriah ke Lebanon,” lanjutnya.
Tentara Israel juga menyatakan, “Shahin mengemban tanggung jawab untuk melaksanakan kesepakatan pembelian peralatan tempur bagi Hizbullah dan mengoordinasikan kedatangan pengiriman dengan pendistribusiannya ke berbagai unit dengan cara yang mendukung proses pembangunan kembali kemampuan Hizbullah.”
Pernyataan itu menyebutkan dugaan aktivitas Shahin dengan “berbagai pedagang atau penyelundup yang tersebar di perbatasan Suriah-Lebanon dan bekerja sama dengan organisasi Hizbullah.”
Hizbullah dan pemerintah Lebanon tidak segera mengomentari pernyataan tersebut.
Serangan terhadap Hermel terjadi sebagai bagian dari pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 27 November 2024.
Pada hari Kamis, Kantor Berita resmi Lebanon mengonfirmasi bahwa “serangan terhadap Hermel mengakibatkan gugurnya dua orang,” tanpa rincian lebih lanjut.
Meskipun batas waktu perpanjangan telah berakhir, Israel terus menunda-nunda dengan mempertahankan kehadirannya di lima bukit di dalam wilayah Lebanon di sepanjang Garis Biru (garis yang menentukan penarikan Israel dari Lebanon pada tahun 2000), tanpa mengumumkan tanggal resmi penarikannya dari bukit-bukit tersebut hingga saat ini.
Agresi Israel terhadap Lebanon dimulai pada 8 Oktober 2023, dan berubah menjadi perang skala penuh pada 23 September, yang mengakibatkan 4.114 orang gugur dan 16.903 orang terluka, termasuk sejumlah besar anak-anak dan wanita, selain menyebabkan sekitar 1.400.000 orang mengungsi. (mm/raialyoum)