Teheran, LiputanIslam.com – Agresi Israel terhadap Suriah semakin menjadi-jadi. Berbagai media Suriah mengutip pernyataan sumber-sumber keamanan bahwa rezim okupasi Israel melancarkan serangan udara ke berbagai kawasan Suriah.
Para saksi mata mengatakan bahwa rezim pendudukan Israel menyerang sebuah pangkalan strategis di Suriah dan beberapa lingkungan di Damaskus.
Reuters mengutip pernyataan sumber keamanan bahwa “pesawat yang diyakini milik Israel menargetkan pangkalan udara Khalkhala di Suriah selatan.”
Reuters juga mengutip keterangan dua sumber keamanan bahwa “serangan” Israel diduga menyasar lingkungan Mezzeh di Damaskus, sementara sumber-sumber media melaporkan dua ledakan besar yang terjadi di daerah Mezzeh di ibu kota Suriah, Damaskus.
Warganet Suriah berbagi video serangan serangan Israel yang diduga menyasar Pangkalan Udara Khalkhala di Suriah selatan.
Dua sumber keamanan mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya enam serangan menghantam pangkalan udara utama yang terletak di utara kota Suwayda, yang menampung sejumlah besar rudal dan peluru artileri angkatan bersenjata Suriah, dengan tujuan menghancurkan senjata-senjata tersebut, dan dengan asumsi bahwa situasi saat ini merupakan peluang untuk menghancurkan kemampuan militer Suriah di masa mendatang.
Tentara pendudukan Israel mengumumkan pihaknya telah memperkuat pasukannya di zona penyangga di Golan Suriah yang diduduki.
Dalam sebuah pernyataan mereka menyebutkan bahwa mengingat peristiwa di Suriah dan berdasarkan penilaian situasi dan kemungkinan militan memasuki zona penyangga tersebut, Israel mengerahkan pasukannya di zona itu dan di beberapa titik pertahanan lain yang dinilai darurat.
Beberapa sumber menyatakan tank-tank pendudukan memasuki kota Khan Arnabeh dan daerah lain di Quneitra, Suriah.
Perkembangan ini terjadi pada saat pasukan oposisi bersenjata Suriah memasuki Damaskus, menyebar ke seluruh lingkungannya dan mengambil alih lembaga-lembaga resminya. Pihak oposisi mengumumkan penggulingan rezim Assad dan dimulainya fase baru di Suriah.
Perdana Menteri sementara Lebanon Najib Mikati menyerukan pengendalian situasi perbatasan dan penjauhan Lebanon dari dampak perkembangan di Suriah.
Seorang pejabat Arab Saudi mengatakan kepada Reuters bahwa Kerajaan Saudi telah melakukan kontak dengan semua pihak yang aktif di wilayah tersebut mengenai Suriah.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengumumkan pihaknya mengikuti perkembangan di Suriah dengan penuh perhatian dan menyerukan untuk menjaga integritas Suriah.
Yordania menekankan pentingnya menjaga keamanan dan stabilitas Suriah dan keharusan melindunginya dari kekacauan dan menjaga fondasi nasionalnya.
Di UEA, Anwar Gargash, penasihat diplomatik Presiden UEA, menyatakan Suriah belum aman, dan kehadiran ekstremisme dan terorisme masih menjadi sumber kekuatiran utama.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad telah meninggalkan Suriah, dan menyatakan bahwa Rusia prihatin atasperkembangan di Suriah.
Kementerian itu menambahkan bahwa Assad telah meninggalkan posisinya dan mengarahkan peralihan kekuasaan secara damai, setelah melakukan negosiasi dengan sejumlah pihak dalam konflik bersenjata Suriah.
Utusan PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, meminta semua pihak bersenjata untuk menjaga hukum dan ketertiban serta melindungi lembaga-lembaga publik.
Pedersen menyatakan kesiapannya untuk mendukung rakyat Suriah demi masa depan yang lebih baik, dan mendesak rakyat Suriah untuk mengutamakan dialog dan persatuan.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menekankan perlunya menjaga integritas wilayah Suriah, dan memperlakukan semua kelompok minoritas secara setara dan tanpa diskriminasi.
Fidan memperingatkan ihwal kelompok-kelompok teroris, termasuk ISIS, yang mengeksploitasi kondisi saat ini di Suriah, namun dia memuji pendekatan konstruktif Rusia dan Iran terkait krisis Suriah.
Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengaku prihatin atas munculnya kembali kelompok teroris ISIS.
Presiden terpilih AS Donald Trump di platform X menyatakan bahwa apa yang terjadi di Suriah merupakan cerminan dari menurunnya minat Rusia untuk melindungi Presiden Assad karena berfokus pada krisis di Ukraina. (mm/alalam)