Rafah, LiputanIslam.com – Delapan warga sipil Palestina, termasuk lima anak kecil dan dua wanita, gugur dan beberapa lainnya terluka pada hari Rabu (17/4) akibat pemboman Israel di wilayah kota Rafah, selatan Jalur Gaza, yang telah menjadi sasaran perang Israel selama lebih dari enam bulan.
Sumber medis kepada kantor berita Anadolu Turki melaporkan , “Delapan warga keluarga Ayyad, yang mengungsi dari Kota Gaza, termasuk lima anak-anak dan dua wanita, gugur syahid akibat pemboman sebuah ruangan di lahan pertanian di lingkungan Al-Salam di selatan kota Rafah.”
Sejumlah warga Palestina juga terluka akibat pemboman Israel yang menyasar rumah keluarga Al-Bahabsa, di sekitar Pemakaman Timur, sebelah timur kota Rafah, menurut koresponden Anadolu.
Pengeboman Rafah terjadi pada saat peringatan regional dan internasional meningkat mengenai persiapan untuk menyerang kota tersebut, dan bahaya yang ditimbulkan terhadap ratusan ribu wargayang mengungsi di sana sebagai tempat perlindungan terakhir di ujung selatan Rafah.
Hal ini juga terjadi setelah tentara Israel mundur dari kamp Nuseirat di bagian tengah Jalur Gaza, menyusul operasi militer darat yang berlangsung selama delapan hari dan menyebabkan kematian, cedera, dan kehancuran besar-besaran.
Sejak tanggal 7 Oktober, tentara Israel telah melancarkan perang dahsyat di Gaza yang menyebabkan puluhan ribu orang gugur dan terluka, yang kebanyakan di antaranya anak-anak dan wanita, sehingga menyeret Tel Aviv ke Mahkamah Internasional dengan dakwaan genosida.
Para diplomat mengatakan bahwa Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada hari Jumat (19/4) mengenai permintaan Palestina menjadi anggota penuh di PBB, sebuah langkah yang diperkirakan akan dihalangi oleh AS, sekutu Israel, karena hal itu berarti pengakuan secara kongkret atas keberadaan negara Palestina.
Para diplomat menambahkan bahwa Dewan Keamanan, yang terdiri dari 15 negara anggota, dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada pukul 15.00 waktu setempat pada hari Jumat mengenai rancangan resolusi yang merekomendasikan agar Majelis Umum PBB yang beranggotakan 193 negara “memberikan keanggotaan kepada Negara Palestina di PBB.”
Agar Dewan dapat menyetujui keputusan apa pun, diperlukan dukungan setidaknya sembilan negara, dan tidak ada anggota tetap, yaitu AS, Inggris, Prancis, Rusia, dan China, yang menggunakan hak veto.
Para diplomat mengatakan langkah tersebut mungkin didukung oleh 13 anggota Dewan Keamanan, yang akan memaksa AS untuk menggunakan hak veto.
Aljazair, salah satu anggota Dewan Keamanan dan pihak yang mengajukan rancangan resolusi tersebut, meminta dilakukan pemungutan suara pada hari Kamis, dengan pertemuan Dewan Keamanan mengenai Timur Tengah yang diperkirakan akan dihadiri oleh beberapa menteri.
Namun AS menyatakan bahwa pembentukan negara Palestina merdeka harus terjadi melalui perundingan langsung antara kedua pihak dan bukan di PBB. (mm/raialyoum)