Jenin, LiputanIslam.com – Pada hari ketiga serangan besar Israel terhadap kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat, warga Palestina menjadi sasaran pengusiran, penangkapan massal, dan eksekusi lapangan, menurut laporan kantor berita Palestina, Wafa, Kamis (23/1).
Disebutkan bahwa pasukan Israel memblokir kamp itu secara total, mengerahkan unit khusus, pesawat nirawak, dan menggunakan sistem pengenalan biometrik dan wajah untuk memantau dan mengendalikan wilayah tersebut.
Pasukan Israel meningkatkan penangkapan massal, penggeledahan, dan interogasi penduduk, serta mengusir mereka secara paksa dari rumah mereka setelah menyuruh mereka keluar. Penduduk diperintah melalui pengeras suara dan selebaran yang dijatuhkan dari udara.
Kelompok advokasi Masyarakat Tahanan Palestina mengatakan pasukan Israel melakukan eksekusi lapangan sebagai bentuk “hukuman kolektif” untuk melemahkan segala bentuk perlawanan.
Sumber medis mengatakan pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 13 warga Palestina dan melukai 50 orang sejak memulai serangan pada Selasa pagi. Petugas medis yang berusaha merawat korban luka terus menghadapi pembatasan secara ekstrem oleh pasukan Israel.
Pergerakan ambulan dikontrol ketat oleh pasukan Israel, dan personel medis digeledah dan diinterogasi sebelum diizinkan membawa bantuan.
TV Palestine melaporkan bahwa liputan terhadap serbuan pasukan Israel sangat terhambat. Tentara Israel memaksa kru saluran ini agar menutup siaran langsung, menyita kamera dan telepon, dan mengancam akan menyerbu gedung tempat kantor TV tersebut berada.
Tentara mengejar wartawan, bahkan setelah mereka mencoba mundur, sehingga memperjelas bahwa pelaporan mereka tidak diinginkan.
“Kami memperkirakan kantor kami akan diserbu kapan saja,” kata koresponden Amna Bilalo.
Pada hari Selasa, militer Israel mengebom dan menyerbu Jenin saat melancarkan serangan besar-besaran di kota ini, beberapa hari setelah gencatan senjata di Gaza diberlakukan.
Pengeboman tersebut disertai dengan serangan darat skala besar oleh pasukan Israel, yang diperkirakan akan terus berlanjut untuk saat ini.
Invasi tersebut telah menyebabkan ketakutan dan kesulitan yang meluas, dengan infrastruktur lokal rusak parah dan akses medis dibatasi.
Solah, seorang penghuni kamp Jenin, menjelaskan bagaimana teknologi pengenalan biometrik digunakan untuk menargetkan para pemuda untuk diinterogasi dan ditangkap lebih lanjut, seringkali tanpa kecurigaan yang jelas.
“Mereka yang memiliki catatan ditangkap. Anda tidak tahu apa yang terjadi pada mereka setelah mereka ditangkap – apakah mereka dipukuli atau lebih buruk. Anda tidak tahu,” kata Solah.
Para pengamat menilai pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejalan dengan serangan Israel untuk membongkar kamp-kamp pengungsi sebagai persiapan untuk aneksasi. Ini merupakan resep untuk bencana dan lebih banyak konflik yang akan datang.
Sejumlah negara Arab, yaitu Arab Saudi, UEA, Kuwait, Mesir dan Irak serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada hari Kamis mengutuk agresi Israel yang sedang berlangsung di kota Jenin, dan menuntut agar Tel Aviv bertanggung jawab atas kejahatannya di sana. (mm/presstv/raialyoum)