TelAviv, LiputanIslam.com – Rezim Zionis Israel mengklaim pasukannya telah membunuh pemimpin Hamas Yahya Sinwar dalam sebuah serangan di Jalur Gaza selatan.
Militer Israel mengonfirmasi kematian Sinwar pada hari Kamis (17/10), namun Hamas belum mengomentari klaim tersebut.
Menurut pernyataan militer Israel, Sinwar terbunuh pada hari Rabu (16/10) setelah tentara “melenyapkan tiga pejuang.”
Pada bulan Agustus, Hamas menunjuk pemimpinnya di Gaza, Sinwar, sebagai kepala biro politik kelompok tersebut untuk menggantikan Ismail Haniyeh, yang terbunuh saat berkunjung ke Iran pada tanggal 31 Juli.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah “menyelesaikan masalah” dengan Sinwar tetapi “perang belum berakhir.”
Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan televisi mengatakan bahwa “cahaya menang atas kegelapan” di wilayah tersebut dan bahwa kematian Sinwar merupakan “tonggak penting” dalam kemunduran kelompok tersebut.
“Hamas tidak akan lagi memerintah Gaza,” katanya.
Menteri Luar Negeri Israel Katz menyebut pembunuhan Sinwar sebagai “pencapaian militer dan moral bagi tentara Israel,” sementara Benny Gantz, ketua Partai Persatuan Nasional Israel, mengucapkan selamat kepada militer Israel.
“Ini adalah pencapaian penting dengan pesan yang jelas – kami akan mengejar musuh kami sampai akhir, kapan saja dan di mana saja,” tulis Gantz di platform sosial X.
Ia mengatakan militer Israel “akan terus beroperasi di Jalur Gaza selama bertahun-tahun mendatang, dan kini serangkaian pencapaian dan penyingkiran Sinwar harus dimanfaatkan untuk mengembalikan para tawanan dan menggantikan kekuasaan Hamas.”
Presiden AS Joe Biden mengatakan kematian Sinwar menandai momen kelegaan bagi warga Israel sekaligus memberikan kesempatan untuk “hari setelahnya” di Gaza tanpa kelompok itu berkuasa.
“Yahya Sinwar merupakan rintangan yang tidak dapat diatasi untuk mencapai semua tujuan tersebut. Rintangan itu sudah tidak ada lagi. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan,” kata Biden dalam sebuah pernyataan.
Dia juga mengatakan, “Saya akan segera berbicara dengan Perdana Menteri Netanyahu dan para pemimpin Israel lainnya untuk memberi selamat kepada mereka, untuk membahas jalur untuk membawa para sandera pulang ke keluarga mereka, dan untuk mengakhiri perang ini untuk selamanya, yang telah menyebabkan begitu banyak kehancuran bagi orang-orang yang tidak bersalah.”
Puluhan Pengungsi Terbunuh
Dalam salah satu serangan udara Israel yang paling mematikan, puluhan orang gugur setelah jet tempur Israel menargetkan Sekolah Abu Hussein, yang menampung pengungsi Palestina di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara.
Menurut kantor media pemerintah Gaza pada hari Kamis, sedikitnya 28 warga Palestina dipastikan gugur, sementara 160 lainnya terluka.
Serangan itu menargetkan sekolah saat orang-orang yang mengungsi berkumpul untuk makan siang, katanya.
Kebakaran terjadi di tenda-tenda orang-orang yang mengungsi di halaman sekolah karena pemboman tersebut.
Sumber medis mengatakan bahwa jumlah korban gugur akibat serangan itu diperkirakan akan meningkat karena beberapa yang terluka dikatakan dalam kondisi kritis.
Dua sumber medis melaporkan beberapa jenazah dibawa ke Rumah Sakit Kamal Adwan dan Al-Awda. ((mm/aljazeera/presstv)