Gaza, LiputanIslam.com – Pada hari ke-19 perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, Israel pada hari Selasa (28/10) mengumumkan peluncuran serangan baru di Jalur Gaza dengan dalih bahwa pejuang perlawanan Palestina melakukan serangan terhadap tentara pendudukan.
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) membantah tuduhan itu, dan menegaskan bahwa rezim pendudukan mengarang kebohongan. Hamas meminta para mediator untuk menunaikan tanggung jawab mereka.
Sumber-sumber rumah sakit di Gaza melaporkan sedikitnyanya 15 orang gugur dan 50 lainnya terluka dalam serangan udara Israel di kota Gaza dan Khan Yunis di Jalur Gaza.
Sebuah sumber Pertahanan Sipil juga melaporkan bahwa empat warga Palestina gugur dan beberapa lainnya, termasuk anak-anak, terluka akibat serangan udara Israel di sebuah rumah di lingkungan Al-Sabra, selatan Kota Gaza.
Lima warga Palestina, termasuk dua anak-anak, gugur dalam serangan udara Israel terhadap sebuah kendaraan sipil di barat laut Khan Yunis.
Menteri Pertahanan Israel, Iisrael Katz mengancam dengan bersumbar bahwa Hamas akan membayar “harga yang mahal” atas apa yang ia sebut sebagai serangan terhadap tentara Israel di Gaza dan pelanggaran perjanjian untuk pengembalian jenazah tawanan Israel.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengumumkan bahwa Netanyahu telah menginstruksikan kepada pimpinan militer untuk melancarkan serangan sengit di Jalur Gaza.
Sumber dari kalangan tokoh Hamas mengatakan bahwa rezim pendudukan mempersulit pembahasan, dan narasi negatifnya mengenai kubu perlawanan salah.
Sumber tersebut menambahkan bahwa pendudukan mengarang kebohongan tentang mayat tawanan Israel demi niat agresif. Dia mendesak para mediator untuk memikul tanggung jawab mereka.
Hamas menegaskan pihaknya tidak terkait dengan insiden penembakan di Rafah, dan mendesak para mediator, penjamin perjanjian gencatan senjata, untuk segera bertindak menekan pendudukan, mengekang eskalasinya terhadap warga sipil di Jalur Gaza, dan menghentikan pelanggarannya.
Di wilayah pendudukan Tepi Barat, tiga jenazah ditemukan setelah penembakan yang dilakukan oleh pasukan pendudukan di dekat desa Kafr Qud di Jenin, di Tepi Barat utara.
Pasukan pendudukan mengumumkan pembunuhan terhadap “sel bersenjata” yang terdiri dari tiga pejuang perlawanan di desa Kafr Qud setelah bentrokan kekerasan dan serangan udara terhadap desa tersebut. (mm/aljazeera)