TelAviv, LiputanIslam.com – Sensor militer Israel sampai sekarang tidak mengizinkan media lokal maupun internasional mempublikasikan gambar atau informasi mengenai kerusakan akibat serangan balik Iran dalam Perang 12 Hari pada Juni 2025. Tampaknya ada sesuatu yang lebih dari sekadar dugaan, karena Iran tahu persis di mana rudal-rudal tersebut mendarat di wilayah Israel dan juga menyadari tingkat kerusakan akibat rentetan rudal Iran.
Tentang itu, seorang narasumber keamanan Israel dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Israel, Kan, memperingatkan bahwa Iran sedang berupaya memulihkan pengaruhnya yang memudar dan mempercepat perolehan senjatanya untuk mengantisipasi serangan Israel.
Dikutip media online Rai al-Youm, Ahad (30/11), sumber tersebut menambahkan bahwa Iran sedang berupaya memulihkan kemampuan Ansarullah di Yaman dan menyelundupkan senjata ke Tepi Barat dengan tujuan melancarkan serangan di Israel. Ia memperingatkan bahwa Iran juga mempersenjatai kembali Hizbullah di Lebanon dan “organisasi teroris” yang beroperasi di Suriah sebagai persiapan untuk potensi serangan terhadap Israel.
Mengenai situasi di Lebanon, sumber keamanan itu menilai Iran memahami Israel akan terpaksa untuk bertindak setelah 31 Desember, yang seharusnya menjadi batas waktu pelucutan senjata Hizbullah. Sumber tersebut menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Iran terlibat dalam perlombaan senjata yang mengkhawatirkan para pejabat keamanan Israel.
Di sisi lain, semakin banyak analis dan pakar di wilayah pendudukan Palestina yang mengingatkan bahwa perang dengan Iran belum berakhir dan babak selanjutnya akan lebih sengit. Diketahui bahwa Washington dan Tel Aviv sedang berupaya menggulingkan pemerintah Iran dan membentuk pemerintahan baru yang loyal kepada Barat, khususnya AS, yang kemudian akan menghentikan program nuklir Iran, isu yang paling meresahkan para pengambil keputusan di Washington, Tel Aviv, dan Eropa.
Tingkat kerusakan pada program nuklir Iran akibat pemboman AS dan Israel masih diselimuti misteri. Banyak indikasi menunjukkan bahwa Washington dan Tel Aviv belum berhasil menghancurkannya dan Iran terus mengembangkannya.
Boaz Levy, CEO Israel Aerospace Industries (IAI) Israel, dalam sebuah konferensi di Tel Aviv tentang konfrontasi dengan Iran di masa mendatang, meyakini bahwa konfrontasi tersebut akan menjadi luar biasa, menurut surat kabar berbahasa Ibrani, Maariv.
Levy membahas perang yang terjadi antara Tel Aviv dan Teheran. “Kejutan terbesar selama operasi terhadap Iran bukanlah teknologinya, melainkan keberanian Iran. Kita tidak pernah menyangka ada yang berani meluncurkan rudal dalam jumlah besar ke arah kita,” ujarnya.
“Kita adalah negara pertama yang menerima rentetan rudal sebesar itu secara bersamaan. Iran telah mengembangkan lingkup pengaruh, dan jelas bahwa perang rudal berikutnya akan berupa rentetan rudal, dan responsnya harus komprehensif,” sambungnya.
Iran memiliki persenjataan rudal canggih yang belum digunakan dalam konfrontasi militernya dengan Israel. Menurut sumber-sumber militer khusus, persenjataan ini mencakup tujuh jenis utama rudal canggih dengan kemampuan destruktif tinggi dan teknologi mutakhir.
Iran juga memiliki rudal jelajah canggih yang dicirikan berkecepatan tinggi dan sulit dideteksi, berkat kemampuan manuvernya yang unggul di udara, sehingga menjadikannya tantangan signifikan bagi sistem pertahanan udara. (mm/raialyoum)