Damaskus, LiputanIslam.com – Pasukan Zionis Israel menduduki beberapa desa di selatan Damaskus, menempatkan tank-tanknya di lokasi sekitar 20 kilometer dari pinggiran ibu kota Suriah tersebut pada hari Selasa (10/12), dan mengaku telah menghancurkan sekira 80% kekuatan militer Suriah.
Tank-tank Israel telah bergerak melewati kota Quneitra di barat daya Suriah dan mencapai jarak 3 kilometer dari kota Qatana, dekat Damaskus.
Israel memulai upaya untuk memperluas pendudukannya atas Suriah pada hari Minggu lalu, setelah kelompok-kelompok bersenjata yang didukung asing dan dipimpin oleh Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), mengumumkan jatuhnya pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad menyusul serangan cepat selama dua minggu yang akhirnya menyebabkan Damaskus jatuh ke tangan mereka.
Pasukan Israel merebut zona penyangga yang memisahkan daerah pendudukan Dataran Tinggi Golan dari wilayah Suriah lainnya, dan ini melanggar perjanjian Israel-Suriah tahun 1974.
Mereka juga merebut Gunung Al-Sheikh (Hermon) di Golan, yang merupakan daerah strategis dan menyediakan dataran tinggi yang menjangkau seluruh wilayah tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Dataran Tinggi Golan Suriah akan tetap menjadi bagian dari wilayah pendudukan “selamanya.”
Eksploitasi Israel terhadap kekacauan saat ini untuk mengerahkan pasukan pendudukannya ke Suriah telah menuai kecaman dari negara-negara regional.
“Kami mengutuk fakta Israel memasuki wilayah Suriah dan mengambil alih kendali zona penyangga,” kata Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi.
Senada dengan itu, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan, “Perebutan zona penyangga di Dataran Tinggi Golan menegaskan pelanggaran Israel yang kontinyu terhadap aturan hukum internasional, dan tekadnya untuk menyabotase peluang Suriah dalam memulihkan keamanan, stabilitas, dan integritas teritorialnya.”
Media Israel melaporkan bahwa rezim tersebut telah melakukan hampir 300 serangan udara di Suriah selama dua hari terakhir.
Mereka menambahkan bahwa jika serangan udara terus berlanjut dengan kecepatan seperti saat ini, Angkatan Udara Suriah akan hancur dalam hitungan hari.
Serangan baru Israel menghantam kota Suriah Salamiyah, di pedesaan timur Provinsi Hama, serta instalasi militer di utara Raqqah, dan pangkalan udara Shayrat di pedesaan Homs.
Hancurkan 80% Kekuatan Militer Suriah
Pada Selasa malam, Israel mengaku telah menghancurkan 70- 80 persen kemampuan militer tentara Suriah, dan mengancam “rezim baru” agar tidak mengizinkan Iran untuk kembali mengambil posisi di wilayah Suriah.
Tentara Israel, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa mereka menyebut operasinya di Suriah sebagai “Panah Bashan.”
“Bashan” adalah nama versi Torah untuk tanah yang terletak di Suriah selatan dan Yordania timur.
Militer Israel mengklaim, “Bagian utama dari Operasi Panah Bashan telah selesai, di mana 70-80% kemampuan militer rezim Assad dihancurkan. 350 pesawat tempur mengebom puluhan pesawat, helikopter, sistem anti-pesawat, dan depot amunisi, dari Damaskus hingga Tartous.”
Mengenai serangan ke Suriah selatan, mereka menyatakan, “Operasi masih berlanjut di lapangan, sebagai bagian dari operasi pasukan darat kami di zona penyangga.”
Mereka juga mengaku “bekerja di sana untuk memaksakan kendalinya atas wilayah tersebut” dan “untuk menghancurkan senjata-senjata tersebut serta memastikan bahwa senjata-senjata tersebut tidak jatuh ke tangan pihak yang tidak diinginkan.”
Netanyahu: Jangan Coba Buka Jalan untuk Iran
Perdana Menteri Rezim Zionis Benjamin Netanyahu memperingatkan penguasa baru Suriah untuk tidak mencoba memberi tempat bagi aktivitas Iran di Suriah.
Dalam sebuah pernyataan video pada Selasa malam dia mengatakan, “Kami tak berniat mencampuri urusan dalam negeri Suriah, tapi tentu kami berniat melakukan segala yang penting bagi keamanan kami. Dalam rangka ini saya merekomendasi AU untuk menyerang semua kekuatan militer strategis yang ditinggalkan oleh tentara Suriah supaya tidak jatuh ke tangan para jihadis. Dan ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh tentara Inggris ketika membom rezim Vichi (Prancis) yang bekerja sama dengan Nazi supaya tidak jatuh ke tangan Nazi.”
Dia menambahkan, “Kami menginginkan hubungan baik dengan rezim baru di Suriah. Tapi, jika rezim ini memperkenankan Iran kembali berposisi di Suriah, atau memperkenankan pengiriman senjata Iran ataupun senjata lain kepada Hizbullah, atau jika menyerang kami maka kami akan mereaksinya dengan sengit dan menimpakan biaya mahal padanya. Apa yang terjadi pada rezim lama juga akan menimpa rezim ini.” (mm/almayadeen/presstv/raialyoum/aljazeera)