Quds, LiputanIslam.com – Seorang petinggi militer Israel memperingatkan perihal apa yang ia sebut sebagai “senjata yang mengubah perimbangan” dan persenjataan “standar” Iran yang jatuh ke tangan sel-sel perlawanan Palestina di Tepi Barat.
Menurut Channel 14, pejabat tersebut pada Rabu malam (10/12) menyatakan kekhawatiran bahwa tentara Israel berfokus pada latihan simulasi serangan skala besar, mirip dengan yang terjadi pada 7 Oktober, namun mengabaikan persiapan untuk operasi “skala kecil” yang dilakukan oleh sejumlah kecil sel, seperti infiltrasi ke permukiman, yang menurutnya merupakan skenario yang sangat mungkin terjadi saat ini.
Dia mengklaim bahwa upaya penyelundupan senjata yang sedang berlangsung telah menyebabkan kedatangan peralatan militer buatan Iran di Tepi Barat. Dia menekankan perlunya mengubah asumsi keamanan untuk mengatasi “bom waktu” ini di wilayah tersebut, dan menegaskan bahwa pasukan pendudukan sedang berpacu dengan waktu untuk merebut senjata-senjata ini berdasarkan informasi intelijen.
Peringatan ini muncul setelah dinas keamanan Israel kemarin mengumumkan penemuan apa yang mereka sebut sebagai “infrastruktur” di daerah Tulkarm. Pasukan pendudukan mengklaim telah menemukan tiga roket dalam berbagai tahap pembuatan, salah satunya dilengkapi dengan hulu ledak, selain alat peledak dan bahan kimia peledak.
Sementara itu, seorang pejabat senior Hamas mengatakan rezim Israel belum menunjukkan “kemauan yang berarti” untuk menerapkan fase pertama perjanjian gencatan senjata, di tengah klaim bahwa pembicaraan untuk fase kedua sedang mengalami kemajuan.
“Rezim pendudukan Israel sejauh ini belum menunjukkan kemauan yang berarti untuk menerapkan fase pertama perjanjian gencatan senjata,” kata Osama Hamdan kepada Ultra Palestine, Selasa.
Dia mengingatkan bahwa para mediator, termasuk AS, harus memastikan bahwa Israel mematuhi kesepakatan tersebut.
Pernyataannya tentang kegagalan Israel untuk mematuhi kesepakatan itu muncul setelah seorang pejabat AS mengatakan Washington sedang bersiap untuk mengumumkan transisi ke fase kedua rencana tersebut dalam beberapa minggu mendatang.
Hamdan menyebutkan bahwa fase kedua “membutuhkan kesepakatan nasional yang komprehensif dan dialog terperinci tentang isu-isu yang ada” di antara semua faksi Palestina, dan bahwa tidak satu pun dari isu-isu ini dapat dibahas tanpa konsensus nasional yang jelas.
“Kami berharap semua faksi, termasuk Fatah, akan bertemu bersama, karena menahan diri untuk tidak terlibat dalam isu-isu nasional tidak mencerminkan tanggung jawab nasional. Pada tahap ini, diharapkan kita dapat mengatasi perselisihan kecil dalam menghadapi tujuan yang lebih besar yang menyangkut situasi Palestina secara keseluruhan,” tuturnya.
Mengenai pelucutan senjata Hamas, Hamdan menekankan hak rakyat Palestina untuk melakukan perlawanan. Menurutnya, pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat yang mampu membela tanah dan rakyatnya akan menghilangkan kebutuhan lembaga lain untuk memiliki senjata.
“Kami telah dengan jelas menegaskan bahwa ketika negara Palestina yang berdaulat, yang (mampu) membela tanah dan rakyatnya dan memiliki sarana pertahanan, didirikan, maka wajar bagi setiap orang yang membela rakyat Palestina untuk terlibat dalam lembaga resmi yang terkait dengan hal itu, dan saat ini kita tidak akan membutuhkan lembaga non-resmi lainnya untuk membela tanah dan rakyat dalam kerangka negara merdeka.” (mm/raialyoum/presstv)