Jenin, LiputanIslam.com – Pasukan Israel telah membunuh tiga warga Palestina dalam serangan di Tepi Barat, dan seorang warga Palestina lainnya dalam insiden terpisah di Jalur Gaza, Selasa (19/9).
Pasukan Zionis menyerbu kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat, dan melakukan kekerasan yang juga melukai sekira 20 orang lain, menurut pejabat kesehatan Palestina.
Militer Israel tidak mengkonfirmasi pembunuhan di Gaza, namun menyatakan bahwa “para perusuh” berkumpul di dekat pagar yang memisahkan Gaza dari Israel, dan “sejumlah alat peledak diaktifkan oleh para perusuh”.
Militer juga memberikan sedikit rincian tentang kematian di Jenin, dan mengaku telah melakukan serangan dengan menggunakan drone.
Kekerasan terjadi setelah Israel mengumumkan pada Minggu malam bahwa pihaknya akan menutup penyeberangan Beit Hanoun (Erez) menyusul meletusnya protes di perbatasan dan evaluasi keamanan oleh pejabat pertahanan.
“Pembukaan kembali penyeberangan akan tunduk pada evaluasi berkelanjutan berdasarkan situasi yang berkembang di wilayah tersebut,” kata COGAT, sebuah unit di Kementerian Pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil Palestina.
Penutupan Beit Hanoun, satu-satunya jalur pejalan kaki keluar dari wilayah Gaza tersebut menuju Israel, telah menyebabkan sekitar 18.000 warga Palestina dari Gaza yang telah diberikan izin kerja tidak dapat mengakses pekerjaan mereka.
Serangkaian protes terjadi selama musim liburan di Israel yang dimulai dengan Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi minggu lalu dan berlanjut hingga festival Sukkot minggu depan.
Selama liburan, sejumlah besar orang Yahudi diperkirakan akan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa, yang mereka sebut Temple Mount, di Kota Tua Al-Quds Timur.
Keputusan untuk memblokir masuknya warga Palestina ke Israel dikutuk sebagai “hukuman kolektif ilegal” oleh LSM Israel Gisha, yang mengadvokasi kebebasan bergerak warga Palestina.
Tindakan ini “merugikan pekerja Gaza dan keluarga mereka, serta pemegang izin lainnya yang perlu melakukan perjalanan untuk keperluan kemanusiaan”, ungkap Gisha dalam sebuah pernyataan.
Israel telah mempertahankan blokade ketat darat, udara dan laut di Jalur Gaza sejak 2007, ketika Hamas merebut kekuasaan di wilayah pesisir tersebut.
Telah terjadi banyak perang antara kelompok bersenjata yang berbasis di Gaza dan Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Hamas mengatakan protes di Gaza merupakan respons terhadap provokasi Israel, dengan alasan peningkatan jumlah aktivis nasionalis sayap kanan Yahudi yang memasuki kompleks Al-Aqsa. (mm/aljazeera)
Baca juga:
Pasukan Israel Serang Jamaah Palestina di Masjid Al-Aqsa
Saudi Anggap Israel Bertanggungjawab atas Serbuan Ekstremis Yahudi ke Al-Asqa