Gaza, LiputanIslam.com – Pasukan Zionis Israel pada hari Selasa (22/4) membunuh sedikitnya 32 warga Palestina di Gaza, termasuk 11 orang yang terbakar di dalam rumah mereka di Khan Younis, dan melancarkan serangan udara yang menghancurkan alat berat yang digunakan untuk mengevakuasi korban tdari bawah reruntuhan.
Tujuh anggota keluarga juga gugur akibat serangan udara di rumah tempat mereka berlindung di bagian barat Kota Gaza. Tiga warga sipil, termasuk dua gadis, gugur ketika pesawat tempur Israel menyerang sekelompok orang di kamp pengungsi Nuseirat.
Pertahanan Sipil Gaza mengatakan Israel juga menyerang buldoser yang digunakan dalam operasi kemanusiaan, termasuk pemindahan puing-puing dan evakuasi jenazah.
Sembilan buldoser yang dibawa ke Gaza dari Mesir selama gencatan senjata enam minggu yang diakhiri Israel pada 18 Maret hancur akibar serangan Israel di garasi kotamadya Jabalia al-Nazlh di Gaza utara, menurut pejabat Pertahanan Sipil Mohammed el-Mougher.
“Kesepakatan sebelumnya telah dicapai dengan komite Mesir-Qatar mengenai lokasi tempat perlindungan buldoser,” katanya, seraya mencatat bahwa koordinat mereka telah dibagikan dengan Israel.
Pertahanan Sipil Gaza menyebut serangan itu sebagai “kontinyuitas kejahatan perang genosida.”
Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina, UNRWA, memperingatkan bahwa lebih dari dua juta orang, yang sebagian besar wanita dan anak-anak, sedang dihukum secara kolektif.
“Gaza telah menjadi tanah keputusasaan,” katanya di X.
Hampir 3.000 truk pasokan UNRWA dan bantuan kemanusiaan masih tertahan di luar Gaza, tidak dapat masuk, sementara makanan dan obat-obatan di dalam jalur tersebut cepat habis.
Lazzarini memperingatkan, “Kelaparan menyebar, bantuan kemanusiaan digunakan sebagai alat tawar-menawar, senjata perang.”
Pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina pendudukan, Francesca Albanese, memperingatkan bahwa menahan bantuan kemanusiaan merupakan kejahatan perang.
“Tindakan ini akan semakin memperburuk kondisi kehidupan yang dimaksudkan untuk menghancurkan penduduk Palestina di Gaza,” lanjutnya.
Hamas mengecam blokade Israel, yang dimulai pada tanggal 2 Maret. “Jalur Gaza menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Hamas dalam sebuah pernyataan, sembari menyinggung krisis makanan, air, bahan bakar, dan obat-obatan.
Hamas menambahkan bahwa blokade serta serangan harian terhadap tempat penampungan, rumah sakit, dan daerah permukiman merupakan “kejahatan yang direncanakan sebelumnya” oleh para gembong Zionis Israel.
Hamas juga menyalahkan “kegagalan politik, moral, dan kemanusiaan” masyarakat internasional, dan meminta PBB dan lembaga-lembaga lain untuk menekan Israel agar mencabut blokade bantuan. (mm/aljazeera)