Teheran, LiputanIslam.com – Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa gerakan perlawanan Lebanon, Hizbullah, akan dengan tegas melanjutkan jalan perjuangan untuk mengakhiri pendudukan kaum Zionis Israel.
IRGC menyatakan demikian sehari setelah upacara pemakaman Sayid Hassan Nasrallah, mantan pemimpin Hizbullah, dan wakil sekaligus penggantinya Sayid Hashem Safieddine di Beirut, tempat jutaan pelayat dari dalam dan luar negeri berkumpul untuk mengucapkan salam perpisahan kepada keduanya.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (24/2), IRGC menyebut upacara dan prosesi pemakaman tersebut, yang diadakan di tengah aksi intimidari jet tempur rezim Israel, telah berubah menjadi “gema perlawanan global anti-Zionis.”
“Peristiwa bersejarah yang hebat di dunia Muslim dan di Beirut ini menunjukkan bahwa Hizbullah, kubu perlawanan Lebanon nan heroik , meraih kemanangan, dan bahwa umat Islam terus bergerak maju dengan vitalitas, kekuatan, dan tekad untuk membongkar pendudukan al-Quds al-Sharif dan tanah Islam,” bunyi pernyataan itu.
IRGC memandang prosesi pemakaman yang “mulia dan epik” untuk dua ikon Hizbullah di Beirut itu sebagai manifestasi vitalitas Hizbullah dan doktrin perlawanan umat Islam anti-Zionis.
IRGC menambahkan bahwa upacara tersebut menjadi manifestasi kekuatan Islam dan persatuan nasional Lebanon yang komprehensif serta globalisasi perlawanan anti-Zionis sehingga kontras dengan keinginan dan hasrat jahat musuh.
Menurut IRGC, ratusan ribu pelayat yang berdatangan dari berbagai negara dengan agama, suku, dan partai politik yang beragam memperbarui kesetiaan mereka kepada para martir perlawanan dan memberikan tanggapan yang kuat kepada musuh Poros Resistensi.
IRGC memperingatkan “para gembong rezim kriminal Zionis, pembunuh anak, rasis, dan teroris” bahwa tidak ada jalan keluar dari nasib yang tak terelakkan dan petaka yang menanti mereka.
Dalam sebuah pesan yang dibacakan selama upacara pemakaman kedua martir Hizbullah, Pemimpin Besar Iran Ayatullah Seyyed Ali Khamenei memperingatkan musuh bahwa perlawanan abadi terhadap penindasan dan kesombongan akan terus berlanjut hingga mencapai tujuan utamanya.
Seperti diketahui, Israel telah menggunakan bom penghancur bunker yang dipasok AS dalam membunuh Sayid Nasrallah pada serangan udara di Beirut selatan pada September 2024. Bulan berikutnya, rezim penjahat itu membunuh Sayid Safieddine, kepala Dewan Eksekutif Hizbullah, dengan serangan serupa. (mm/presstv)