Teheran, LiputanIslam.com – Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan bahwa dalam peristiwa Perang 12 Hari, korban tewas di pihak militer dan keamanan Israel jauh lebih banyak daripada korban gugur di pihak Iran.
Seperti diketahui, pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran hingga menggugurkan sejumlah perwira tinggi dan ilmuwan nuklir serta banyak warga sipil. Lebih dari seminggu kemudian, AS juga ikut campur dalam perang dan mengebom tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Iran melancarkan serangan balik terhadap lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan Palestina serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar. Pada 24 Juni, Iran, melalui operasi balasannya yang sukses terhadap rezim Israel dan AS, berhasil menghentikan serangan ilegal tersebut.
Juru bicara IRGC, Brigjen Ali Mohammad Naeini, mula-mula menyebutkan bahwa serangan balik Iran yang bersifat simultan terhadap target-target di Israel yang serupa dengan target-target di Iran menunjukkan bahwa Iran memiliki basis data intelijen yang lengkap dan akurat
Dia mencontohkan bahwa pasukan Iran telah melumpuhkan kilang Haifa dengan dua serangan rudal, dan dalam serangan mereka terhadap markas Mossad, tak kurang dari 36 anggota dan perwira dinas rahasia Israel ini tewas.
“Mereka menyerang fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran, dan hanya lima jam kemudian, kami menggempur kilang Haifa dua kali. Mereka sendiri mengakui bahwa serangan itu adalah mahakarya rudal Iran, yang membuat kilang tersebut tak dapat beroperasi,” tuturnya, seperti dikutip al-Alam, Minggu (7/12).
Naeini menyebut serangan terhadap markas Mossad sebagai balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas intelijen Iran, dan Israel belum secara resmi mengumumkan kerugian mereka, “namun kami mengetahui detail lengkapnya.”
Naeini memastikan jumlah personel militer dan keamanan Israel yang tewas dalam perang selama 12 hari itu “jauh lebih besar daripada para martir kami,” dan menekankan bahwa tingginya presisi serangan udara dan dirgantara Iran “sangat menentukan,” yang contohnya antara lain serangan terhadap ruang bawah tanah gedung 32 lantai yang berfungsi sebagai pusat data bursa saham Israel.
Mengenai “perang media” yang dilancarkan oleh media musuh, dia menekankan bahwa narasi Israel berfokus pada “ilusi intelijen dan superioritas udara.”
“Mereka mengarang narasi untuk menggambarkan kekuatan mereka, sementara kami memiliki superioritas udara, rudal, dan siber yang jelas,” ungkapnya.
Naeini menyebutkan bahwa selama Perang 12 Hari Iran telah menangkis sekira 400-500 serangan siber di samping melaksanakan operasi siber efektif yang tidak diumumkan ke publik.
Dia mengatakan kedua belah pihak terlibat saling infiltrasi satu sama lain. “Saya tidak menyangkal infiltrasi; spionase adalah realitas bersama. Kami memiliki 60 kasus infiltrasi aktif di wilayah pendudukan, dan telah dirilis hukuman terhadap 30 di antaranya.”
Naieni menyebutkan bahwa media Israel sendiri mengabarkan bahwa selama 12 hari perang, terjadi penangkapan “kelompok pengumpul intelijen” dalam sistem keamanan mereka, dan ini membuktikan bahwa infiltrasi memang terjadi timbal balik.
Dia bagian akhir dia menyebutkan bahwa apa yang dipromosikan pihak musuh mengenai keunggulannya dalam mengidentifikasi target, “tidak terkait dengan spionase manusia,” melainkan mengandalkan teknologi canggih, seperti satelit mata-mata, drone, sistem peretasan, perang informasi, dan kecerdasan buatan dalam analisis data.(mm/alalam)