Baghdad, LiputanIslam.com – Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, pada hari Senin (11/8) mengadakan dengan para pejabat senior Irak di Baghdad, di mana ia menandatangani “nota kesepahaman keamanan,” sebelum bertolak ke Lebanon, tempat pemerintah Beirut pekan lalu menyetujui keputusan perlucutan senjata Hizbullah yang notabene sekutu Iran.
Larijani diangkat sebagai Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyusul perang 12 hari antara Iran dan Israel pada bulan Juni, yang mencakup serangan AS terhadap beberapa situs nuklir Iran.
Kunjungan Larijani ke Baghdad dilakukan di tengah perpecahan yang terjadi di Irak terkait rancangan undang-undang yang akan memperkuat pengaruh Pasukan Mobilisasi Populer (PMF/Hashd al-Shaabi) yang pro-Iran.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Larijani menandatangani “nota kesepahaman keamanan bersama” dengan Penasihat Keamanan Nasional Irak, Qasim al-Araji.
Kantor Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, mengumumkan bahwa Al-Sudani mengawasi penandatanganan “nota kesepahaman keamanan bersama”, dengan menyatakan bahwa nota kesepahaman tersebut “berkaitan dengan koordinasi keamanan di perbatasan bersama antara kedua negara.” Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan mengenai perjanjian tersebut.
Larijani dan Penasihat Keamanan Nasional Irak membahas “implementasi perjanjian keamanan yang ditandatangani antara kedua negara”. Keduanya juga membicarakan situasi di Jalur Gaza
Seorang pejabat senior pemerintah Irak mengatakan kepada AFP bahwa tujuan kunjungan tersebut adalah untuk membahas perjanjian keamanan bilateral dan “memberi tahu pihak Irak perihal sikap Iran terkait perkembangan konflik dengan AS dan Israel.”
Perlucutan Senjata Hizbullah
Larijani djadwalkan bertolak dari Irak, ke Lebanon, di mana ia akan bertemu dengan para pejabat senior di Beirut, menyusul serangkaian pernyataan terbaru para pejabat Iran terkait keputusan pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah.
Sebelum meninggalkan Teheran, Larijani mengatakan, “Kerja sama kami dengan pemerintah Lebanon sudah terjalin lama dan mendalam. Kami berkonsultasi mengenai berbagai isu regional. Dalam konteks khusus ini, kami berhubungan dengan para pejabat Lebanon dan para tokoh berpengaruh di Lebanon.”
Dia menambahkan, “Pendirian kami terkait Lebanon telah lama diketahui. Kami percaya bahwa persatuan nasional di Lebanon sangat penting dan harus dijaga dalam segala situasi. Kedaulatan dan kemerdekaan Lebanon selalu menjadi perhatian kami.”
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebutkan bahwa kunjungan Larijani “bertujuan untuk berkontribusi dalam menjaga perdamaian di Timur Tengah.”
Baghaei menyatakan bahwa Iran mengakui “hak Lebanon mempertahankan diri dari agresi rezim Zionis,” dan pertahanan ini “mustahil tanpa kemampuan dan persenjataan militer.”
Pekan lalu, pemerintah Lebanon menugaskan militer untuk mengembangkan rencana implementasi guna melucuti senjata Hizbullah sebelum akhir tahun. Langkah ini diambil di tengah tekanan AS dan kekhawatiran bahwa Israel akan melancarkan kampanye militer besar-besaran baru.
Hizbullah menolak keputusan tersebut dan mengaku memperlakukannya “seolah-olah tidak ada,” dan menuduh pemerintah melakukan “kesalahan besar.” (mm/raialyoum)