Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk membahas “bencana kemanusiaan” yang terjadi di Jalur Gaza.
Dalam surat yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal OKI Hissein Brahim Taha, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, dan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan, Araghchi pada hari Kamis (7/8) mendesak OKI mengadakan sidang luar biasa sebagai tanggapan atas “situasi kemanusiaan yang memburuk dengan cepat” di wilayah Palestina yang terblokade tersebut.
“Situasi yang memprihatinkan di Gaza kini telah menjadi salah satu krisis paling parah yang dihadapi Umat Islam dan komunitas internasional,” ungkap Araghchi.
Dia menambahkan,”Kondisi di Gaza telah melampaui batas daya tahan manusia. Apa yang terjadi bukan sekadar krisis kemanusiaan melainkan penghancuran sistematis terhadap penduduk sipil yang terkepung. Skala dan intensitas kejahatan yang dilakukan menuntut tindakan segera dan terkoordinasi.”
Araghchi melayangkan surat itu ketika Jalur Gaza dilanda kelaparan. Berbagai badan internasional melaporkan tingkat kelaparan yang sangat parah di mana setidaknya 193 orang, termasuk 96 anak-anak, gugur akibat kelaparan dalam beberapa bulan terakhir, sementara konvoi bantuan masih diblokir atau dibatasi secara ketat oleh rezim Israel. Selain itu, lebih dari 1.500 warga Palestina gugur ketika mencoba mengakses bahan makanan.
“Statistik dan laporan terbaru dari semua organisasi kemanusiaan dan sumber media terkemuka menunjukkan bahwa penduduk sipil Gaza menghadapi situasi yang hanya dapat digambarkan dengan satu kata: genosida,” tegas Araghchi.
Menteri luar negeri Iran juga menekankan urgensi pengiriman bantuan kemanusiaan secara terkoordinasi, dan menyerukan sorotan terhadap “niat strategis” rezim Israel untuk menduduki Gaza secara permanen.
“Yang sama mengkhawatirkannya adalah semakin banyaknya bukti niat ilegal dan strategis rezim pendudukan untuk menduduki kembali dan mencaplok Gaza sepenuhnya,” ujarnya.
Dia menjelaskan, “Pernyataan para pejabat senior rezim Zionis, beserta tindakan militer dan postur politiknya, jelas menunjukkan adanya rencana yang disengaja untuk menghapus identitas teritorial dan politik Gaza melalui kontrol permanen, rekayasa demografi, dan penghancuran setiap prospek kedaulatan Palestina.”
Araghchi memperingatkan bahwa para pejabat tinggi Israel telah menyatakan niat “untuk melenyapkan Gaza sebagai entitas politik,” dan bahwa tindakan itu mengindikasikan adanya “desain strategis yang bertujuan untuk menghapus kedaulatan Palestina melalui pendudukan teritorial permanen, pemindahan penduduk paksa, dan manipulasi demografi.”
Menteri Luar Negeri Iran mendesak OKI segera mengadakan pertemuan luar biasa Dewan Menteri Luar Negeri di Jeddah, Arab Saudi. Sidang tersebut, menurutnya, bertujuan mengoordinasikan bantuan kemanusiaan, menilai implikasi hukum dan politik dari tindakan Israel, dan merumuskan tanggapan yang terpadu.
“Pertemuan tersebut harus mengadopsi langkah-langkah terpadu dan dapat ditindaklanjuti — diplomatik, hukum, dan ekonomi — untuk menghentikan agresi, memastikan akuntabilitas, dan menegaskan kembali hak rakyat Palestina atas penentuan nasib sendiri, kedaulatan, dan kepulangan, menandai titik awal untuk memulihkan keadilan,” ujar Araghchi.
Perang genosida rezim Zionis Israel di Gaza sejauh ini telah menggugurkan sedikitnya 61.158 warga Palestina, yang sebagian besarnya perempuan dan anak-anak. (mm/presstv)