Negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran, JCPOA, sebelum AS keluar darinya.

Wina, LiputanIslam.com –   Negara-negara penandatangan yang masih tersisa dalam kesepakatan nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif (JCPOA), mengadakan pertemuan di Wina, ibukota Austria, Jumat (28/6/2019), sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan perjanjian ini setelah AS keluar darinya secara sepihak pada tahun 2018.

Tentang ini, Wakil Menlu Iran Abbas Araqchi menilai ada suatu kemajuan dalam pertemuan itu, tapi belum memenuhi desakan Teheran.

“Itu merupakan langkah maju, tapi masih belum cukup dan tidak memenuhi harapan Iran,” ujar Abbas Araqchi kepada wartawan, setelah hampir empat jam berunding dengan para diplomat senior Inggris, Cina, Prancis, Jerman dan Rusia.

Baca: Analis AS Sebut Sanksi Baru Trump atas Iran Cuma Simbol

Pada Mei 2018 Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari JCPOA, sebuah perjanjian multilateral yang diteken Iran bersama enam negara terkemuka dunia pada tahun 2015. AS kemudian memberlakukan kembali sanksi sepihak terhadap Iran yang semula dicabut berdasarkan JCPOA.

Belakangan ini, negara-negara Eropa yang terlibat dalam JCPOA dikenai ultimatum dua bulan untuk membantu Iran mengendalikan sanksi AS, dan jika ini tidak dipenuhi maka Iran akan mengurangi komitmennya kepada JCPOA pada 7 Juli mendatang.

Pada awal Mei lalu, Teheran menangguhkan batas-batas pada produksi uranium yang diperkaya dan air berat. Meski tindakan ini secara teknis tidak melanggar kesepakatan, namun menandakan menipisnya kesabaran Teheran.

Baca: Zarif: Pemula Perang Terhadap Iran Jangan Harap Dapat Mengakhirinya

“Keputusan untuk mengurangi komitmen kami telah dibuat di Iran dan kami melanjutkan proses itu kecuali jika harapan kami terpenuhi,” ungkap Araqchi.

Mengenai instrumen perdagangan baru Eropa dengan Iran (INSTEX), Araqchi menyatakan Eropa telah mengkonfirmasi bahwa mekanisme ini sekarang sudah “operasional” dan transaksi pertama sudah diproses. Namun, dia menilainya ini masih belum cukup karena negara-negara Eropa tidak membeli minyak Iran.

“Agar INSTEX bermanfaat bagi Iran, Eropa perlu membeli minyak atau mempertimbangkan batas kredit untuk mekanisme ini, jika tidak maka INSTEX tidaklah seperti yang mereka atau yang kami harapkan,” tuturnya.

Baca:  Penulis Arab: Sandal Pemimpin Iran Lebih Berharga dari Otak Trump!

Di pihak lain, Uni Eropa juga merilis statemen yang mengkonfirmasi pelaksanaan mekanisme perdagangan khusus itu.

“Prancis, Jerman, dan Inggris memberi tahu para peserta bahwa INSTEX telah dioperasionalkan dan tersedia untuk semua negara anggota UE, dan bahwa transaksi pertama sedang diproses,” bunyi statemen itu.

Mekanisme perdagangan ini dibuat pada tahun lalu setelah AS keluar dari JCPOA, namun selama berbulan-bulan Perancis, Jerman dan Inggris tidak mengimplementasikan INSTEX sehingga Iran lantas menyoal keseriuan mereka ihwal gagasan itu.

Sedangkan China masih akan terus mengimpor minyak Iran. Beijing mengabaikan sanksi sepihak AS terhadap Iran, dan memastikan akan tetap mengimpor minyak Iran meskipun AS mengembargo Iran. (mm/railayoum/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*