Teheran, LiputanIslam.com – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengutuk pengakuan rezim Israel atas Somaliland, dan menyebutnya sebagai bagian dari strategi yang lebih luas dengan tujuan mendestabilisasi kawasan.
Dalam konferensi pers pada hari Senin (29/12) dia menegaskan bahwa pengakuan atas sebagian wilayah Somalia itu tidak memiliki dasar hukum atau politik apa pun.
Menurutnya, tindakan itu diambil oleh entitas Zionis, yang mereka sendiri menderita ketidakabsahan, dengan tujuan memecah belah negara-negara Muslim, mempercepat disintegrasi regional, dan membuat kawasan itu lebih rentan terhadap ambisi dan agresi Israel.
Baghaei menyinggung pernyataan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan Uni Afrika, yang semuanya secara eksplisit menolak apa yang disebut pengakuan tersebut.
Dia menambahkan bahwa tidak ada dasar untuk tindakan tersebut dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau di bawah hukum internasional, khususnya sejauh menyangkut penghormatan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan nasional.
Dia menilai masalah ini lebih dari sekedar upaya memisahkan bagian dari negara Muslim yang merdeka, dan lebih merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendestabilisasi wilayah geografis yang luas yang meliputi Asia Barat, Tanduk Afrika, dan Laut Merah.
Baghaei berharap perkembangan ini menjadi peringatan bagi negara-negara di kawasan dan sekitarnya, dan menekankan pandangan Iran bahwa tindakan rezim Israel “pada dasarnya anti-perdamaian” dan bertujuan untuk memicu ketegangan, perpecahan, dan konflik di seluruh wilayah.
Seperti diketahui, Israel telah mengumumkan pengakuannya atas Somaliland yang memproklamirkan diri sebagai “negara berdaulat”. Tindakan Israel ini tak pelak mengundang kecaman internasional. (mm/ptv)