Teheran, LiputanIslam.com – Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, memastikan negara ini memiliki rudal yang lebih baik dan lebih dahsyat dibandingkan dengan yang digunakan dalam Perang 12 Hari melawan Rezim Israel Zionis pada juni 2025.
Talaei-Nik mengatakan bahwa Iran juga telah meningkatkan jumlah rudalnya sejak berakhirnya perang dengan Israel pada akhir Juni.
“Kapasitas kuantitatif dan kualitatif kekuatan rudal Iran telah meningkat dibandingkan dengan perang 12 hari yang dipaksakan, dan kemampuan pertahanan rudal negara telah diperkuat dan menjadi lebih efektif berkat pengalaman yang diperoleh dalam perang,” kata Talaei-Nik, Sabtu (24/1)..
Dia menambahkan bahwa negaranya telah mengembangkan kemampuan rudal yang canggih untuk menanggapi ancaman yang ada, dan bahwa negaranya merahasiakan kemajuan tersebut demi mengejutkan musuh pada waktu yang tepat.
Dia menepis ancaman serangan militer belakangan ini terhadap Iran. Menurutnya, retorika ragu-ragu musuh terhadap Iran membuktikan bahwa mereka takut terhadap kapasitas pertahanan dan kekuatan rudal Iran.
Rudal Iran yang digunakan dalam perang dengan Israel menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada rezim tersebut, menghantam banyak target militer dan ekonomi di seluruh wilayah pendudukan dengan tingkat presisi yang tinggi.
Para ahli militer percaya bahwa meningkatnya dampak rudal Iran yang ditembakkan terhadap target Israel merupakan faktor utama dalam keputusan AS memaksa rezim Zionis menerima gencatan senjata pada 24 Juni.
Para pejabat dan komandan militer Iran telah memperingatkan bahwa pihaknya akan menggunakan kekuatan rudalnya yang besar terhadap target yang terkait dengan AS di kawasan sekitar jika AS memutuskan untuk menyerang Iran.
Siap Membalas Sengit
Sementara itu, Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Ahmad Vahidi, menegaskan Iran sepenuhnya siap membalas sengit terhadap segala bentuk agresi terhadap Iran, dan memperingatkan musuh agar tidak melakukan tindakan yang lebih gegabah.
Vahidi menyatakan Iran telah menggagalkan rencana musuh dalam agresi AS-Israel selama 12 hari pada bulan Juni 2025 dan kerusuhan yang didukung asing belakangan ini.
“Sama seperti dalam Perang 12 Hari dan kerusuhan beberapa waktu lalu, semua rencana musuh untuk mengalahkan Iran gagal, kami siap untuk memberikan balasan yang menjerakan terhadap setiap tindakan gegabah oleh musuh bebuyutan bangsa Iran,” tandas Vahidi.
Dia menilai musuh-musuh Iran, setelah menderita kemunduran dalam Perang 12 Hari, mencoba untuk mengimbanginya melalui kerusuhan, tetapi kembali dikalahkan berkat persatuan nasional dan solidaritas publik.
Jumlah Korban Kerusuhan
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah klaim yang mengemuka belakangan ini bahwa sekitar 30.000 orang tewas selama kerusuhan yang didukung asing di Iran.
Baghaei pada hari Minggu (25/1) menyatakan bahwa angka tersebut, yang muncul dalam unggahan terbaru di X oleh Open Source Intel, mengingatkan pada metode yang digunakan di Jerman Nazi di bawah Adolf Hitler, yang mengandalkan pengulangan tanpa henti dari “Kebohongan Besar.”
“Kebohongan BESAR ala Hitler: bukankah ini jumlah yang mereka rencanakan untuk dibunuh di jalanan Iran?!” kata Baghaei dalam sebuah unggahan di akun X-nya sendiri.
Dia merujuk pada laporan yang menuduh para perusuh yang didukung asing berusaha membunuh sejumlah besar warga sipil dan menyalahkan pemerintah.
“Namun, mereka gagal, dan sekarang mereka mencoba MEMALSUKANNYA di media. Sungguh kejam!” lanjut unggahannya.
Angka resmi pemerintah Iran melaporkan bahwa lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan dan aksi terorisme di berbagai kota dan daerah pada awal Januari.
Kerusuhan meningkat pada tanggal 8 Januari dan berlanjut selama beberapa hari, menyusul protes damai di pasar-pasar Iran di mana para pedagang menyerukan tindakan pemerintah untuk menghentikan devaluasi rial Iran.
Kekerasan tersebut mengakibatkan kerusakan luas pada properti publik dan swasta, dengan penghancuran toko-toko, lembaga pemerintah, dan fasilitas layanan publik secara luas.
Pihak berwenang Iran mengatakan bahwa badan intelijen AS dan Israel terlibat langsung, memberikan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media kepada para perusuh dan teroris bersenjata yang beraksi di jalanan. (mm/alalam/presstv)